Sabtu, 12 Januari 2013


Ferdinan
UAS Sejarah Indonesia
4423125302
Selendang Lokcan

Sebuah batik sutra dramatis bahu-kain (selendang) dari Juana atau Rembang di pantai utara Jawa Timur, tangan-digambar dengan motif klasik batik sutra-burung yang dikenal sebagai lokcan-dan dicelup dalam warna biru nila top-dicelup dengan kemerahan-coklat kayu Tinggi, pada tanah gading. Lokcan ini memiliki 3 ekor panjang yang menyerupai sayap ganda, memberi mereka karakter mitos, dan berkaitan dengan phoenix Cina. Mereka dikelilingi oleh tumbuhan menjalar berkeliaran menghubungkan berbagai motif-anyelir (titik air mata berbentuk dengan kelopak runcing), markisa (lebih besar, motif membelah), berbentuk tapal kuda polong, 4-petalled bunga, daun, dan kupu-kupu. Bantalan bunga dan buah yang besar. Sebagian besar dari keindahan tekstil adalah panjang yang besar, ditekankan oleh irama 4 pasang lokcan ramping lebih bergantian dengan satu gemuk tunggal, dan aliran melengkung motif bawah kain. Dari catatan khusus adalah ekstensi runcing dari motif, disebut ren (duri), yang memberikan karakter, mencolok tajam untuk desain, dan melengkapi formulir gelap yang solid dan kurva dari motif. Tekstil selesai pada akhir masing-masing dengan lebar halus bergaris yang meniru poni, serta pinggiran terpasang yang sebenarnya.Batik Lasem Lok Can sangat familiar di komunitas pecinta batik nusantara. Batik Lasem Lok Can bernilai seni tinggi dan sarat dengan makna filosofis kehidupan. Wajar jika para kolektor batik selalu memburu Batik Lasem Lok Can.Batik Lasem Lok Can awalnya selalu dibuat berbahan sutera (bahasa Cina: Can = sutera). Warna motif dominan biru, khususnya biru muda (bahasa Cina: Lok = biru), dan warna latar belakang putih atau krem.Namun kini, banyak dijumpai Batik Lasem Lok Can berbahan katun primis super halus dengan variasi warna yang semakin menarik dan terjangkau harganya.Ornamen utama motif Batik Lasem Lok Can sesungguhnya berupa stailisasi burung hong (phoenix). Meski adakalanya dimodifikasi dengan motif burung kecil, seperti wallet atau sriti, yang banyak terdapat di Lasem. Stailisasi The Phoenix selalu diharmonisasikan dengan motif flora dan bahkan fauna.Selain bernilai artstic estetis, Batik Lasem Lok Can memiliki makna sosial filosofis. Burung Phoenix (Hong) melambangkan kebajikan, prestasi, dan keabadian.Jadi, jika Anda menginginkan aura kebajikan dan prestasi selalu terpatri di dalam aura pribadi Anda, sering-seringlah berbusana Batik Lasem Lok Can. Pengaruh budaya China juga terdapat pada batik di pesisir utara Jawa Tengah hingga saat ini yang dikenal dengan nama Lok Can. lokcan merupakan burung yang dibawa oleh tentara Tartar. Setiap daerah di Indonesia memiliki motif yang berbeda antara daerah yang satu dengan yang lain.
Orang-orang China mulai membuat batik pada awal abad ke-19. Jenis batik ini dibuat oleh orang-orang China atau peranakan yang menampilkan pola-pola dengan ragam hias satwa mitos China, seperti naga, ragam hias yang berasal dari keramik China kuno serta ragam hias yang berbetuk mega dengan warna merah atau merah dan biru. Batik China juga mengandung ragam hias buketan, terutama batik China yang dipengaruhi pola Batik Belanda. Pola-pola batik China dimensional suatu efek yang diperoleh karena penggunaan perbedaan ketebalan dari satu warna dengan warna lain dan isian pola yang sangat rumit. Hal ini ditunjang oleh penggunaan zat warna sintetis jauh sebelum orang-orang Indo-Belanda menggunakannya.
Batik Lok Can awalnya dibuat dengan bahan sutera (bahasa Cina: Can = sutera). Warna motif batik Lok Can didominasi oleh warna biru, khususnya biru muda (bahasa Cina: Lok = biru), dan warna latar belakang putih atau krem. Namun kini, banyak dijumpai Batik Lok Can berbahan katun primis super halus dengan variasi warna yang semakin menarik dan terjangkau harganya.
Ornamen utama motif Batik Lasem Lok Can sesungguhnya berupa stylisasi burung hong (phoenix). Meski ada kalanya dimodifikasi dengan motif burung kecil, yakni wallet/sriti, yang banyak terdapat di Lasem. Modifikasi Motif Burung Phoenix selalu diharmonisasikan dengan motif flora dan bahkan fauna. BATIK gedog tidak bisa dilepaskan dari sejarah Tuban. Batik ini kali pertama dibawa langsung Laksamana Cheng Ho dari China (kini Tiongkok). Nuansa China dari batik ini sangat melekat. Itu terlihat dari gambar burung Hong yang menjadi kekhasan batik tersebut.
Setelah masuk Tuban, batik ini diadopsi Ki Jontro, pengikut Ronggolawe. Saat Ronggolawe memberontak Majapahit, dia dan pengikutnya bersembunyi di hutan. Dalam persembunyian itulah, Jontro yang kemudian namanya dipakai nama alat tenun tradisional membuat pakaian untuk pasukannya. Semula, pakaian dari kain tenun tersebut bermotif garis-garis sesuai alur benang. Namun, setelah terpengaruh batik Lokcan dari Laksamana Cheng Ho, kain tenunnya dibatik seperti batik tersebut. Nama gedog kemudian diambil dari bunyi proses penenunan yang berbunyi gedog.
Di zaman Sunan Bonang, batik ini juga dipakai oleh pengikutnya. Kini, sebagian batik peninggalan pengikut Sunan Bonang itu disimpan di museum Kambang Putih.
Saat ini perkembangan batik gedog cukup pesat. Tak hanya Tuban, namun batik model ini juga diminati masyarakat luar Tuban. Dengan harga terjangkau, mereka bisa dengan mudah mendapatkan batik yang diproduksi di wiyalah Kecamatan Kerek ini.
Karena peminat cukup tinggi, akhirnya masyarakat Bumi Ronggolawe pun mencoba menjual batik gedog ini di kompleks makam Sunan Bonang untuk dijajakan pada para peziarah makam salah satu wali songo ini.Batik Lasem Lok Can awalnya selalu dibuat berbahan sutera (bahasa Cina: Can = sutera). Warna motif dominan biru, khususnya biru muda (bahasa Cina: Lok = biru), dan warna latar belakang putih atau krem.
Namun kini, banyak dijumpai Batik Lasem Lok Can berbahan katun primis super halus dengan variasi warna yang semakin menarik dan terjangkau harganya.
Ornamen utama motif Batik Lasem Lok Can sesungguhnya berupa stailisasi burung hong (phoenix). Meski adakalanya dimodifikasi dengan motif burung kecil, seperti wallet atau sriti, yang banyak terdapat di Lasem. 

Sumber:






Perang Banjar (Anisa Dwi Habsari) UTS


Perang Banjar



Annisa Dwi Habsari
4423126859
FAKULTAS ILMU SOSIAL
UNIVERSITAS NEGERI JAKARTA
USAHA JASA PARIWISATA 2012

Berkunjung ke Monumen Nasional kita akan melihat diorama dari perjalanan sejarah bangsa kita di Museum Sejarah Nasional yang terletak di dalam bestment . Didalam sini dijelaskan secara berurutan perjalanan sejarah bangsa Indonesia yang dimulai sejak zaman pra-sejarah hingga Indonesia memasuki masa orde baru. Ruang museum sejarah yang berukuran 80 x 80 meter yang sanggup menampung 500 pengunjung terdapat 51 diorama tentang pejalanan sejarah bangsa. Pada 23 oktober 2012 saya mendapatkan tugas kunjungan ke Museum sejarah Nasional ini. Pada saat itu saya mendapatkan tugas membuat sejarah salah satu diorama yang ada disana. Disini saya mendapatkan tugas dari diorama perang Banjar.  Perang Banjar merupakan perang antara kerajaan Banjarmasin dengan pemerintah kolonial Belanda.   Kerajaan Banjarmasin merupakan salah satu kerajaan terbesar di Kalimantan. Letak kerajaan ini berada di  Selatan Kalimantan . Luas wilayah kerajaan ini sama seperti wilayah kerajaan kalimantan selatan dan sebagian kalimantan tengah saat ini. Islam menjadi agama resmi kerajaan hal ini tercermin dalam gelar Sultan yang dipakai oleh raja. Walaupun kerajaan ini awalnya merupakan kerajaan Hindu namun sejak 1520 kerajaan ini menjadi kerajaan Islam dibawah Sultan Suriansah. Menurut mitologi suku asli Kalimatan Selatan suku Maanyan  kerajaan yang menjadi asal usul kesultanan Banjar adalah Kerajaan Nan Sarunai yang diperkirakan wilayah kekuasaannya terbentang luas mulai dari daerah Tabalong hingga ke daerah Pasir.  Agama islam dibawa kewilayah ini oleh pedagang-pedagang  dari Jawa. Dalam kerajaan ini terdapat dua kota yang terbesar ialah Banjarmasin dan Martapura. Di Banjarmasin terdapat pelabuhan dan pusat-pusat dagang , sementara di Martapura terdapat pusat istana sultan yang sekaligus menandai sebagai pusat kekuasaan.

Kerajaan banjarmasin sangat kaya dengan hasil-hasil alam. Hasil-hasilnya yang utama ialah lada, kayu, rotan, damar, madu dan juga intan. Tentu saja hasil-hasil ini menarik perhatian pedagang-pedagang Indonesia dari pulau-pulau lain. Lebih-lebih lagi letaknya baik sekali . kerajaan ini berada di tengah-tengah pelayaran antara: Sumatera di Barat, Jawa di Selatan, Sulawesi dan Maluku di Timur. Oleh sebab itu pelayaran dan perdagangannya menjadi ramai. Kerajaannya menjadi besar, rakyatnya  makmur dan hidup dalam damai. Selain perahu-perahu pedagang Indonesia, kapal-kapal dagang asing juga sudah ada yang  singgah di pelabuhan Banjarmasin. Bangsa-bangsa itu misalnya Portugis, Spanyol, Inggris, dan terutama sekali Belanda. Sejak abab ke-17, kerajaan Banjar sudah mempunyai hubungan dagang yang erat dengan Belanda.

Lada ternyata sangat menguntungkan. Oleh karena itu Belanda ingin memonopoli perdagangan itu. Monopoli lada artinya hanya Belanda saja yang boleh berdagang lada, sedangkan bangsa-bangsa asing, apalagi bangsa-bangsa Indonesia lainnya, dilarang. Dengan sendirinya cara ini tamak sekali. Demikianlah sultan-sultan banjar dipaksa menandatangani perjanjian-perjanjian dagang yang bersifat monopoli itu. Mereka terpaksa mengalah. Mengapa? Oleh karena Belanda menggunakan ancaman-ancaman senjata dengan cara-cara licik ini Belanda berhasil memegang monopoli perdagangan itu.
   
  Walaupun dibawah perjanjian-perjanjian dengan VOC kerajaan Banjar sampai abad ke-18 masih merupakan kerajaan yang berdaulat. Kerajaan Banjar sampai saat itu belum mendapatkan campur tangan dari VOC yang pada saat itu sudah banyak melakukan campur tangan seperti yang terjadi di Jawa pada saat konflik dalam kerajaan Mataram Islam. Namun kerajaan Banjar memasuki akhir abad ke-18 mengalami perebutan tahta kerajaan. Perebutan ini diawali ketika Sultan ke-15 Mohammad Aminullah wafat.

     Sultan Aminullah wafat dengan meninggalkan tiga orang putera, namun karena semuanya masih terlalu muda kepemimpinan Sultan di mandatkan sementara oleh Pangeran Nata Negara saudara Raja. Namun karena ia ingin menjadi Sultan maka ia satu persatu menyingkirkan pewaris kerajaan yang sah. Namun salah satu pangeran yaitu Pangeran Amir berhasil lolos dan berencana melakukan perlawanan . Pangeran Nata Negara yang sudah mengangkat dirinya sebagai Sultan dan bergelar Sultan Sulaiman Saidillah  lalu meminta bantuan Belanda untuk membatu mengatasi perlawanan Pangeran Amir . Pangeran Amir pada 1875 dengan 3000 orang laskar Bugis melakukan penyerangan ke Martapura.  Sultan Saidillah dan Belanda yang berhasil menumpas perlawanan pangeran Amir . Pasukan Belanda yaang dipimpin oleh Kapten Christoffel Hoffman berhasil menghalau dan menangkap Pangeran Amir. Atas penyerbuan ini Pangeran Amir dibuang oleh Belanda ke Ceylon.  Bantuan yang diberikan oleh Belanda ini membuat Sultan harus melakukan perjanjian untuk membayar bantuan Belanda ini. Perjanjian ini merupakan tanda awalnya pengaruh kolonial mencampuri urusan internal kerajaan dan menjadikan kerajaan Banjar dibawah Pemerintah kolonial Belanda.

     Sultan Sulaiman Saidillah digantikan oleh puteranya yang bernama Sultan Sulaiman, namun kepemimpinannya hanya sebentar. Ia kemudian digantikan lagi oleh Sultan Adam Alwasik Billah pada 1825. Sultan Alam merupakan sebagai seorang yang taat beribadah . Ia juga dicintai oleh rakyatnya, serta hatinya juga lembut . Namun pada akhirnya karena sifatnya itu ia menjadi tidak dapat mengahadapi tekanan-tekanan Belanda. Salah satunya ketika Belanda dengan paksa meminta dibukanya tambang batu arang. Selain itu  konflik dari perebutan tahta kerajaan juga terlihat ketika ia kehilangan putera mahkota Sultan Muda Abdurahman yang sudah ditetapkan sebagai penggantinya.

     Kematian putera mahkota ini membuat terjadinya perebutan takhta antara keturunannya setelah ia meninggal. Ada tiga pihak yang merasa dirinya paling berhak menjadi Sultan yaitu Pangeran Hidayatullah, Pangeran Tamjidillah dan Pangeran Prabu Anom. Masing –masih memiliki pihak yang mendukungnya untuk menjadi Sultan. Namun karena disukai oleh Belanda maka Pangeran Tamjidillah yang menjadi putera Mahkota. Pada 1857 Sultan Adam wafat , ia meninggalkan kerajaannya dalam keadaan kacau. Dua hari kemudian Pangeran Tamjidillah dinobatkan sebagai Sultan dan Pangeran Hidayatullah sebagai Mangkubumi atau wakilnya.

     Dibawah kepemimpinan Sultan yang baru rakyat sengat tidak puas. Hal ini karena Sultan hanya mementingkan kepentingan Belanda dan kepentingan sendiri. Selain itu konflik antar Sultan dan Mangkubumi juga semakin jelas terlihat. Perselisihan antara keduanya membuat terjadinya kerusuhan-kerusuhan di beberapa wilayah kerajaan. Sultan yang merasa tidak puas menuduh bahwa kerusuhan ini didalangi oleh Pangeran Hidayatullah atau Mangkubumi . Kejengkelan dengan sikap Sultan ini juga melahirkan gerakan-gerakan rakyat. Mereka mengadakan kerusuhan-kerusuhan. Namun tetap saja gerakan rakyat ini masih terpisah-pisah belum ada pimpinan yang bisa menyatukan gerakan tidak puas ini.

     Pada saat seperti ini muncul Pangeran Antasari yang merupakan masih keturunan Sultan Amir menyadari bahwa gerakan tidak puas rakyat ini belum terorganisir karena tidak adanya pemimpin yang menyatukan. Pada saat itu ada empat gerakan protes rakyat yaitu :
1.      Gerakan Benua Lima dipimpin Jalil
2.      Gerakan Muning dipimpin Aling
3.      Gerakan Tanah Laut dan Hulu Sungai dipimpin oleh Demang Lehman
4.      Gerakan Kapuas-Kahayan dipimpin oleh Tumennggung Surapati.
Pangeran Antasari berhasil mengorganisir ke empat gerakan ini dan menyakini para pemimpinnya untuk perlunya persatuan untuk menghadapi Belanda dan Sultan Tamjidillah.  Dalam memimpin gerakan rakyat ini Pangeran Antasari selain memperjuangkan mengganti Sultan dengan Sultan yang sah juga berusaha mengembalikan kedaulatan kerajaan Banjar . Gerakan ini juga pada akhirnya didukung oleh kaum ulama .   Sebab umum :
·       Rakyat tidak senang dengan merajalelanya Belanda yang mengusahakan perkebunan dan pertambangan di Kalimantan Selatan.
·       Belanda terlalu banyak campur tangan dalam urusan intern kesultanan.
·       Belanda bermaksud menguasai daerah Kalimantan Selatan karena daerah ini ditemukan pertambangan batubara. (Karena ditemukan Batubara di kota Martapura Belanda telah merencanakan untuk memindah ibukota kesultanan ke kota Negara - bekas ibukota pada zaman Hindu).

Pangeran Antasari dengan semua anggotanya mulai memasuki pedalaman untuk melakukan perang  dengan Belanda. Pangeran Antasari berhasil mengumpulkan 6000 orang laskar. Gerakan pangeran Antasari ini juga diketahui oleh Sultan yang membuat Sultan waspada . Gerakan Pangeran Antasari juga semakin besar mengumpulkan anggotanya. Pada 27 april 1859 Pangeran Antasari dan laskarnya berhasil menduduki perkampungan Pengaron yang dekat dengan Benteng Pengaron.

    Penyerbuan besar-besaran oleh Antasari dan Laskarnya dimulai pada 28 April dan hal ini memulai terjadinya perang Banjar hingga 1905.  Pemerintah Belanda di Jawa yang mengetahui hal ini dengan cepat mengirimkan Kolonel Infanteri Andersen untuk memadamkan rakyat Banjar . Untuk sementara pasukan Pangeran Antasari dan laskar rakyatnya berhasil memimpin perang ini. Dengan waktu cepat pada 12 Juni Belanda mengirim kapal perangnya untuk memadamkan perlawanan ini. Keunggulan sejata Belanda ini membuat terdesak perlawanan rakyat Banjar. Pangeran Antasari pada akhirnya menarik diri ke pedalaman. Ia bergerak  memimpin seluruh peperangan. Kini ia merubah siasat perangnya menjadi perang geriliya.

Gerakan melawan Belanda ini juga didukung oleh Pangeran Hidayatullah yang masuk pedalaman bersama dengan keluarganya untuk bergabung dengan para laskar rakyat. Selain itu Belanda di Martapura mengumpulkan para alim-ulama dan bangsawan untuk mengumumkan bahwa kesultanan Banjarmasih dihapuskan pada 17 desember 1959. Dengan keputusan ini menurut Belanda sudah tidak ada lagi kerajaan Banjarmasin. Sementara itu perlawanan dari laskar-laskar rakyat masih terus melakukan perlawanan.

Namun gerakan perlawanan ini sempat mengalami kemunduran ketika Sultan Hidayatullah ditangkap oleh Belanda dan diasingkan ke Cianjur. Kepemimpinan kesultanan Banjar kemudian dilanjutkan oleh Pangeran Antasari yang diangkat menjadi Sultan pada 1862 . Perlawanan secara bergeriliya kemudian dipimpin Antasari .  Belanda juga semakin gencar memadamkan gerakan geriliya rakyat. Salah satunya ketika Letnan Satu Verspijck mengirimkan surat kepada pangeran Antasari untuk menyerah, namun surat ini dibalas dengan pernyataan Sultan bahwa ia tidak akan menyerah. Namun pada 11 November 1862 karena wabah  sampar Sultan Antasari wafat. Kematian Antasari ini membuat guncangan bagi gerakan perlawanan ini.

Pangeran Antasari digantikan oleh kedua anaknya. Mohammad Seman putera tertua Antasari menjadi Sultan sementara Mohammad Said sebagai wakilnya. Pemerintahan keduanya ini disebut Pegustian. Pegustian yang berdiri 1862 pusat pemerintahannya selalu berpindah-pindah. Hal ini dikarenakan terus-menerus menghindari penyerbuan-penyerbuan Belanda. Sementara Belanda terus menerus mengirimkan tentaranya untuk membubarkan pemerintah pegustian. Tentara Belanda dibawah Letnan Dua H. Chistoffel melakukan serangan dan berhasil membuat Sultan Mohammad Seman tewas.  Walaupun tewas namun serangan-serangan terhadap Belanda terus terjadi hingga memasukin awal abad ke-20.
    
Referensi :

·   Sjamsuddin, Helius. 1975. Pangeran Antasari dan Perang Banjar. Bandung : Sanggabuana.

·           Syamtasiyah, Ita. 1996. Kerajaan Banjarmasin di Ambang Keruntuhan (1825-1859). Bogor : Maharini Press.

·           M.C Ricklefs. 2008. Sejarah Indonesia Modern 1200-2008. Yogyakarta : Serambi Ilmu Semesta.



·            http://warofweekly.blogspot.com/2010/09/perang-banjar-1859-1905.html


· http://serbasejarah.wordpress.com/2009/04/01/perang-banjar-2-pangeran-antasari-panembahan-amiruddin-khalifatul-mukminin/

KRI Dewa Ruci (Ujian Akhir Semester) Anisa Dwi Habsari


(Ujian Akhir Semester)

KRI DEWA RUCI 
Annisa Dwi Habsari
4423126859
FAKULTAS ILMU SOSIAL
UNIVERSITAS NEGERI JAKARTA
USAHA JASA PARIWISATA 2012

Banyak cara untuk Indonesia melakukan Promosi terhadap kebudayaan dan tentang bangsanya. Salah satunya adalah dengan menggunakan Pelayaran Internasional dengan KRI Dewa Ruci. Waktu saya mendapatkan kunjungan tugas ke museum Bahari saya melihat kapal yang legendaris ini. Saya berkunjung ke museum Bahari pada 18 desember 2012.  KRI Dewaruci merupakan kapal latih bagi taruna/kadet Akademi Angkatan Laut, TNI Angkatan Laut. Kapal ini berbasis di Surabaya dan merupakan kapal layar terbesar yang dimiliki TNI Angkatan Laut. Nama kapal ini diambil dari nama dewa dalam kisah pewayangan Jawa, yaitu Dewa Ruci. Dewa Ruci dikisahkan dalam Mahabarata sebagai dewa berambut panjang, seperti anak kecil bermain-main di atas laut. Ia dikisahkan bertemu dengan Sena , sang Wrekudara yang sedang mencari air suci di tengah laut. Dewa Ruci juga mengajarkan ajaran-ajaran kebaikan pada Sena sehingga ia kembali dengan tenang . Legenda Dewa Ruci yang menunjukan kebesarnya telah membuat ia dijadikan nama sebuah kapal perang Indonesia sebagai kapal latih yang tangguh untuk menggarungi Samudra.

Sejarah KRI Dewa Ruci

 KRI Dewa Ruci adalahKapal berukuran 58,5 meter dan lebar 9,5 meter dari kelas Barquentine ini dibangun di H.C. Stulchen & Sohn Hamburg, Jerman dan merupakan satu-satunya kapal layar tiang tinggi produk galangan kapal itu pada 1952 yang masih laik layar dari tiga yang pernah diproduksi. Pembuatan kapal ini dimulai pada tahun 1932, namun terhenti karena saat Perang Dunia II galangan kapal pembuatnya rusak parah. Kapal tersebut akhirnya selesai dibuat pada tahun 1952 dan diresmikan pada tahun 1953.Dewaruci dibuat pada tahun 1952 oleh H.C. Stulchen & Sohn Hamburg, Jerman Barat, pertama diluncurkan pada tanggal 24 Januari 1953, dan pada bulan Juli nya dilayarkan ke Indonesia oleh taruna AL dan kadet ALRI. Setelah itu KRI Dewaruci yang berpangkalan di Surabaya, ditugaskan sebagai kapal latih yang melayari kepulauan Indonesia dan juga ke luar negeri.?Kapal layar dewa Ruci mempunyai panjang total 58,30m, lebar lambung 9,50m , Draft 4,50m dan bobot mati 847 ton.
 Kapal ini juga memiliki 3 tiang utama yaitu tiang Bima, Yudhistira dan Arjuna serta memiliki 16 layar.Sedangkan spesifikasi Layar Type: Barquentin, 16 layar dengan luas total 1091 m2, Tiang depan (35,25 m), tiang Utama (35,87 m) dan tiang akhir (32,50 m). Selain menggunakan layar, KRI Dewaruci juga menggunakan mesin 986 PK Diesel sebagai alat gerak dengan satu propeler berdaun 4. Kecepatan penuh 10,5 knot dengan mesin, 9 knot dengan layar. Setiap tahunnya, kadet AAL berlayar dengan Dewaruci ke berbagai belahan dunia dengan tujuan utama adalah latihan pelayaran bintang atau disebut Kartika Jala Krida. KRI Dewaruci juga sering mengikuti lomba kapal layar di berbagai tempat di dunia. Kapal ini juga memiliki marching band sendiri, yaitu marching band taruna Akademi Angkatan Laut yang biasa dikenal dengan nama Gita Jala Taruna. Pelayaran keliling dunia perdana KRI Dewaruci terjadi pada 1964, dengan komandan Mayor Pelaut Sumantri dan perwira pelaksana Kapten Pelaut Nasution. Berangkat dari Tanah Air ke arah timur, melintasi Samudera Pasifik, pantai barat, Terusan Panama, dan pantai timur Amerika Serikat, Samudera Atlantik, beberapa negara di sana, Laut Mediterania, Terusan Suez, Laut Arab, Samudera Hindia, dan finis di Pulau We untuk kemudian kembali ke dermaganya di Surabaya.
Kapal Perang Republik Indonesia (KRI) Dewaruci berhasil merapat di dermaga Pelabuhan Malaga, Spanyol, setelah menaklukkan Laut Mediterania yang dikenal ganas itu. Kapal yang memiliki tiang layar setinggi 35 meter tersebut bertolak dari Aljazair pada 17 Juni 2010 dengan dilepas Duta Besar RI untuk Aljazair, Yuli Mumpuni Widarso. Lamanya waktu tempuh itu disebabkan tingginya gelombang dan kecepatan angin di Laut Mediterania. Informasi yang disampaikan awak KRI Dewaruci kepada Dinas Penerangan Koarmatim menyebutkan, awalnya kecepatan angin hanya lima knot. Namun, dalam waktu singkat perlahan-lahan kecepatan angin bertambah menjadi 20 hingga 25 knot dan meningkat lagi menjadi 40 knot, terutama di sekitar perairan Teluk Almeria di bagian tenggara Spanyol.
Dalam kondisi seperti itu laju KRI Dewaruci hanya dua knot, jauh di bawah kecepatan normal kapal yang berusia 58 tahun itu. Apalagi tinggi gelombang yang mencapai 4-5 meter mengakibatkan air laut masuk melalui haluan kapal itu. Hampir semua awak kapal pun mengalami mabuk laut. Bahkan jumlah prajurit yang mengalami sea sick (mabuk laut) ini melebihi dari yang pernah terjadi. Mungkin karena mereka terlalu lama terombang-ambing gelombang Laut Mediterania, yakni 28 jam, katanya. Di salah satu kota wisata di Spanyol itu, para awak KRI Dewaruci disambut Atase Pertahanan RI, Kolonel CAJ Erry Hermawan, didampingi staf KBRI Madrid dan perwira penghubung Angkatan Laut Spanyol. Setibanya di Malaga, para awak KRI Dewaruci mengadakan kunjungan kehormatan ke pejabat militer dan sipil, di antaranya Komandan Pangkalan AL Malaga Kolonel Laut Luis Miranda Freite, Kepala Perwakilan Pemerintahan Pusat Spanyol Hilario Lopes Luna yang kedudukannya sama dengan gubernur provinsi di Indonesia, dan Wakil Wali Kota Malaga Antonio Corderto. Selanjutnya, pada 24 dan 25 Juni 2010, para awak KRI Dewaruci melakukan serangkaian kegiatan, di antaranya pertandingan sepak bola persahabatan melawan personel Angkatan Udara Spanyol dan resepsi diplomatik dengan menggelar kesenian tradisional. Para kadet AAL juga akan mengikuti latihan dan praktik pelayaran astronomi dan dasar-dasar kepelautan selama tiga bulan di Spanyol. KRI Dewaruci dijadwalkan akan menyinggahi Prancis, Belgia, Denmark, Norwegia, Inggris, Belanda, Jerman, Italia, dan Mesir, sebelum kembali ke Tanah Air pada September 2010.

Penghargaan Terhadap KRI Dewa Ruci
Kapal yang mempesona saya ini banyak mendapatkan penghargaan . Setelah 8 bulan 11 hari berlayar ke Benua Asia, Afrika, dan Eropa dalam rangka tugas diplomasi, Kapal Perang Latih TNI Angkatan Laut KRI Dewa Ruci, Selasa tanggal 23/11/2010 akhirnya bersandar di Dermaga Komando Armada RI Kawasan Timur, Surabaya. Dalam perjalanan diplomasinya ke 29 kota di 21 negara, kapal jenis kapal layar tiang tinggi atau tall ship ini berhasil menyabet sebanyak 23 penghargaan internasional.Sejak 12 Maret 2010 lalu, KRI Dewa Ruci berlayar menempuh sekitar 27.537 mil menyusuri lautan dan tiga benua. Dalam pelayarannya, selain menjalankan latihan dan praktik berlayar, para kadet dan ABK juga bertugas menjadi duta budaya dan wisata serta duta diplomasi internasional. KRI Dewa Ruci dioperasikan oleh 88 anak buah kapal (ABK) dan membawa 83 kadet Akademi Angkatan Laut (AAL) tingkat III Angkatan 57. Dalam perjalanannya, mereka berhasil memenangi 23 kejuaraan, antara lain peserta pelayaran terjauh pada The Historical Sea Tall Ships Regatta 2010, penampilan terbaik kirab kota di Volos dan Lavrion, kapal paling spektakuler memasuki pelabuhan di Antwerp, hingga kapal layar tinggi terpopuler di Sail Amsterdam 2010.
Kapal Latih KRI Dewa Ruci mampu merebut tiga penghargaan di Belgia. Ketiga penghargaan itu adalah kapal dengan formasi terbaik saat berlabuh, kapal asal terjauh, dan tim olahraga basket terbaik. Kapal layar kebanggaan Indonesia, KRI Dewa Ruci, kembali mendulang prestasi di tingkat internasional. Dalam lomba Tall Ships Races di Norwegia, 29 Juli 1 Agustus 2010, kapal latih taruna Angkatan Laut itu memperoleh penghargaan sebagai kapal layar dengan formasi terbaik saat berlabuh (the most spectacular entrance). Selain itu menurut KBRI  di Norwegia mengungkapkan bahwa Dewa Ruci juga menerima tiga penghargaan lain, yaitu untuk pertandingan olah raga cabang tenis meja dan voli pantai, serta lomba susun peti . Keempat penghargaan tersebut secara bergantian diserahkan oleh Menteri Kebudayaan Norwegia, Anniken Huitfeldt, dan Walikota Kristiansand, Per Sigurd Sorensen, kepada perwakilan awak kapal dan Taruna TNI-AL. Penyerahan penghargaan disaksikan puluhan ribu pengunjung dan sekitar 5.000 awak kapal layar peserta Tall Ships Races 2010 dari 18 negara usai parade berkeliling kota pelabuhan Kristiansand, 30 Juli 2010. Kemenangan awak kapal KRI Dewa Ruci dirayakan dengan ajakan menari poco-poco di atas geladak kapal.
Selama singgah di Kristiansand, KRI Dewa Ruci setiap hari terbuka untuk dikunjungi oleh warga umum. Ribuan pengunjung setiap hari berkesempatan mengagumi kapal layar bertiang tinggi itu, yang meski tua namun tetap tampak gagah dan artistik dengan ornamen ukiran kayu khas Jepara. Terik matahari dan hujan yang datang silih berganti tampak tidak menghentikan semangat Dewa Ruci dalam upaya melaksanakan tugasnya sebagai goodwill ambassador Indonesia selama kegiatan di Kristiansand, kata Bjarne Ugland, Ketua Penyelenggara Tall Ship Races 2010 Duta Besar RI untuk Norwegia, Esti Andayani, menyatakan bahwa promosi yang dilakukan Dewa Ruci selama sandar di Kristiansand telah meninggalkan kesan mendalam bagi masyarakat setempat dan Indonesia makin dikenal oleh Norwegia. Meninggalkan Kristiansand Dewa Ruci selanjutnya menuju pelabuhan di Hartlepool, Inggris.
Jadi Primadona Di Amsterdam sedang berlangsung Sail 2010, atau pawai kapal-kapal layar besar dan kecil. Kapal Indonesia Dewaruci jadi primadonanya. Sekitar 50 kapal layar besar atau tall ships membuka acara dengan memamerkan kehebatan dan keanggunan kapal mereka. Salah satu bintang utama Sail 2010 adalah KRI Dewaruci dari Indonesia. KRI Dewaruci untuk kedua kalinya berpartisipasi dalam Sail Amsterdam. Yang pertama di tahun 2005. Kapal Indonesia ini populer, karena satu-satunya kapal dari Asia. Yang kedua, KRI Dewaruci unik dengan berbagai ragam ukiran-ukiran yang antik. Ukiran itu datang dari wilayah Indonesia Timur, Barat dan Tengah. Kemudian para awaknya juga menampilkan seni budaya yang mewakili berbagai wilayah Indonesia.
Ditambah dengan iringan musik drum band. Hari pertama Sail dimeriahkan dengan sail-in. KRI Dewaruci berada di urutan keenam. Sewaktu masuk pelabuhan Amsterdam, para taruna naik di tiang-tiang, melakukan demonstrasi untuk menyampaikan selamat datang kepada kota Amsterdam. Selain itu karena KRI Dewaruci adalah kapal angkatan laut Indonesia, mereka menerima penghormatan dua kali sebelum bersandar di dek yang disediakan. Para pengunjung Sail 2010 bisa berkunjung ke atas kapal dan mendapat informasi dari para awak.

Kapal yang sudah memasuki usia ini sudah mulai akan digantikan dengan kapal yang baru. TNI AL Siapkan Pengganti KRI Dewaruci Markas Besar TNI Angkatan Laut berencana mengadakan kapal latih baru sebagai pengganti Kapal Perang Republik Indonesia (KRI) Dewaruci yang sekarang umurnya sudah cukup tua. Memang kapal latih KRI Dewaruci usianya sudah cukup tua dan kami sudah menyiapkan rencana untuk regenerasi dengan pengadaan kapal latih baru, kata Pangarmatim Laksamana Muda TNI Among Margono. Menurut KSAL, pengadaan kapal latih calon perwira TNI AL itu sudah masuk agenda Mabes TNI AL dan segera diusulkan kepada pemerintah, termasuk anggaran pembelian yang nilainya sekitar 50 juta dolar AS.
Laksamana Agus Suhartono menginginkan kapal latih tersebut memiliki spesifikasi lebih bagus dan lebih besar dibanding KRI Dewaruci. Misalnya panjang kapal 105 meter, memiliki empat tiang pancang utama dan mampu mengangkut kadet AAL minimal 100 orang. Kami harapkan dalam dua tahun ke depan, pengadaan kapal latih itu sudah bisa direalisasikan. Nantinya, KRI Dewaruci hanya untuk pelayaran di dalam negeri, sementara kapal yang baru akan digunakan kadet AAL melakukan perjalanan ke luar negeri, ujar Agus Suhartono.
Kalau sudah ada persetujuan dari pemerintah, kami akan undang negara-negara yang sudah biasa memproduksi kapal layar seperti itu untuk tender pengadaan. Kapal ini sangat khas karena buatan tangan, sehingga tidak banyak negara yang bisa membuatnya, tambah KSAL. KRI Dewaruci dibuat pada tahun 1952 oleh H.C. Stulchen & Sohn Hamburg, Jerman dan pertama kali diluncurkan pada 24 Januari 1953. Pada Juli 1953, kapal tersebut dilayarkan dari Jerman ke Indonesia oleh taruna dan kadet AAL untuk menjadi kapal latih calon perwira TNI AL. KRI Dewaruci dengan panjang 58,30 meter, lebar lambung 9,50 meter, draft 4,50 meter, dan bobot mati 847 ton itu, telah dilengkapi dengan sistem navigasi canggih dan komputerisasi. Kapal tipe Barquentin ini memiliki tiga tiang utama dengan 16 layar. Selain itu, kapal ini dilengkapi mesin berkekuatan 986 PK diesel dengan kecepatan maksimal 10,5 knot. Walaupun digantikan jasa-jas KRI Dewa Ruci sebagai kapal yang menjadi pembawa misi diplomatik ini akan selalu dikenang dan diinggat sepanjang masa.
Referensi :
·      Kowaas, Cornelis . 2010 .  Dewa Ruci  : pelayaran pertama menaklukan tujuh samudra .Jakarta :  Kompas Media Nusantara.

·      Kowaas, Cornelis. 1986.  Dewa Ruci melanglang buana-Pelayaran muhibah keliling dunia. Jakarta : Sinar Haparan.

·      Imam Musbikin. 2010 . Serat Dewa Ruci : Misteri Air Kehidupan . Yogyakarta : Diva/

·      Majalah Angkasa : Edisi koleksi No. 76, November 2011, KRI Dewaruci - Kapal Latih Penjelajah Samudera.

·      nasional.kompas.com/read/2012/10/11/1812320/Pengganti.KRI.Dewaruci.Lebih.Canggih

·      en.wikipedia.org/wiki/KRI_Dewaruci

·      http://www.museumbahari.org/default.php?p=2&kd_koleksi=1

 ·      id.wikipedia.org/wiki/KRI_Dewaruci