Selasa, 25 Desember 2012

Candi Borobudur


UJIAN TENGAH SEMESTER
CANDI BOROBUDUR (menurut pengamatan Diorama di Monas)



TRIS MAYULFA
4423125297
USAHA JASA PARIWISATA
UNIVERSITAS NEGERI JAKARTA 2012


Pembukaan

Siapa yang tidak mengenal Candi Borobudur ? bahkan mungkin sebagian dari anda pernah mengunjungi objek wisata ini. Candi Borobudur telah dinobatkan sebagai salah satu Situs Warisan Dunia oleh UNESCO pada tahun 1911. Borobudur pun dinilai masuk kedalam kriteria Budaya karena mewakili mahakarya kreativitas manusia jenius, menampilkan pertukaran penting dalam nilai-niali manusiawi, pembangunan arsitektur yang menakjubkan, menghubungkan suatu kebiasaan atau tradisi yang bernilai artistik dan berkarya sastra.

Namun taukah anda mengenai sejarah Candi ini lebih mendalam ? Berikut akan saya jelaskan secara singkat mengenai Candi Borobudur.


Lokasi Candi Borobudur

Di Indonesia terdapat sebuah Candi dan dinamakan Candi Borobudur yang terletak di kota Mungkid, Magelang Jawa Tengah. Sekitar 40 km disebelah barat laut Yogja, 86 km disebelah barat Surakarta, 100 km disebelah barat daya kota Semarang. Bangunan ini berdiri di atas bukit dan dikelilingi oleh Gunung Sundoro-Sumbing disebelah barat laut, sebelah selatan terdapat perbukitan Menoreh , sebelah timur laut terdapat Gunung Merbabu-Merapi, Bukit Tidar disebelah utara dan dekat dengan pertemuan dua sungai Progo dan sungai Elo disebelah timur. Daerah ini juga dikenal sebagai dataran kedu yang menurut Legenda kepercayaan Jawa berarti tempat yang dianggap suci dan karena keindahan alam dan juga kesuburan tananhnya akhirnya disebut sebagai “Taman Pulau Jawa”.


Sejarah Candi Borobudur

Borobudur adalah monumen Buddha terbesar di dunia dengan luas 123x123 m dengan 504 patung Buddha, 72 stupa terawang dan 1 stupa induk. Borobudur berasal dari kata “bara” (candi/biara) dan ‘beduhur” yang berarti perbukitan atau tempat tinggi sedangkan Borobudur berarti biara di perbukitan. Namun ada juga yang mengangap sebuah gunung yang berteras-teras (budhara).

Satu-satunya dokumen yang menjelaskan tentang keberadaan candi ini ialah Kitab Nagarakretagama yang ditulis oleh Mpu Prapanca pada tahun 1365 dan berdasarkan bukti tertulis pertama yang ditulis oleh Sir Thomas Stamford Raffles, Gubernur Jenderal Britania Raya di Jawa yang memberi nama ini. Tidak ada lagi bukti tertulis selain kitab tua tersebut. Sesuai dengan namanya maka Borobudur dijadikan sebagai tempat ibadat penganut agama Buddha sejak dulu.



Pembangunan candi-candi Buddha termasuk Borobudur saat itu dimungkinkan karena pewaris Sanjaya, Rakai Pangkaran memberikan izin kepada umat buddha untuk membangun candi, ia juga menganugerahkan desa kalasan kepada sangha (komunitas buddha). Para arkeolog pun memahami bahwa pada zaman Jawa kuno agama tidak pernah menjadi masalah yang dapat menuai konflik. Agama Buddha bisa saja membantu agama Hindu begitu pula sebaliknya.

Namun diduga Candi Lara Junggrang di Prambanan yang dibangun oleh Rakai pangkaran didirikan untuk menyaingi kemegahan Candi Borobudur milik wangsa Syailendra. Pada tahun 856 diperkirakan terjadi persaingan antara dua wangsa yang terjadi diperbukitan, persaingan itu terjadi antara wangsa Syailendra yang menganut agama Buddha aliran Mahayana namun berdasarkan temuan prasasti SojoMerto menunjukkan bahwa awalnya mereka adalah penganut agama Siwa dan wangsa Sanjaya yang memuja Siwa dan kemudian peperangan itu dimenangkan oleh wangsa Sanjaya. Akan tetapi banyak pihak yang percaya bahwa terdapat toleransi yang terjadi antara ke-dua wangsa tersebut karena ke-2nya ikut terlibat dalam pembangunan Candi Siwa di Prambanan.

Tidak ada yang tahu pasti kapan bangunan ini didirikan namun berdasarkan perbandingan antara jenis aksara yang tertulis dikaki tertutup Karmawibhangga dengan jenis aksara yang digunakan pada prasasti kerajaan abad ke 8-9. Borobudur diperkirakan dibangun tahun 800 Masehi dalam kurun waktu antara 760 M dan 830 M pada puncak kejayaan wangsa Syailendra, yang dipengaruhi kemaharajaan Sriwijaya. Pendirinya yaitu Raja Simaratungga, dibangun oleh para penganut agama Buddha Mahayana dan selesai sekitar 75-100 tahun setelahnya atau menjelang tahun 900-an Masehi pada masa pemerintahan Ratu Pramudawardhani yaitu putri dari Simaratungga.

 Menurut cerita turun temurun Gunadharma adalah arsitek yang berjasa untuk membangun Candi Borobudur. Namun tak banyak yang mengetahui tentang arsitek misterius ini karena bukti bahwa ia yang merancang pembangunan ini semata hanyalah dongeng dan kepercayaan turun temurun bukan dari prasasti-prasasti yang ditemukan. Diduga bahwa Perbukitan Menoreh ialah tubuh dari Gunadharma namun tentunya cerita ini hanyalah legenda dan dongeng semata.




Tahapan pembangunan Borobudur

Dalam membangun candi ini ada beberapa tahap dan berubahan yang terjadi, yaitu :
1) Tahap Pertama :
Diperkirakan pada kurun waktu 750-850 M borobudur dibangun diatas bukit alami yang diratakan dan pelataran datar diperluas. Pada awalnya dirancang seperti Piramida berundak namun diubah menjadi tiga undakan, pertama yang menutup Struktur asli piramida berundak.  Batu andesit adalah salah satu bahan yang digunakan untuk membangun Borobudur.
2) Tahap kedua :
Penambahan dua undakan persegi, pagar langkan dan satu undak melingkar yang diatasnya dibangun stupa tunggal yang besar.
3) Tahap ketiga :
Undak atas lingkaran dengan stupa tunggal induk besar dibongkar dan diganti tiga undak lingkaran, stupa-stupa kecil dibangun berbaris melingkar di pelataran perundak dengan satu stupa induk yang besar di tengahnya. Struktur kaki untuk membungkus kaki asli di tambahkan agar candi tidak longsor selain berfungsi sebagai ikat pinggang yang mengikat agar tubuh candi tidak runtuh. Struktur ini juga menyembunyikan relief Karmawibhangga pada bagian Kamadhatu.
4) Tahap keempat :
Dilakukan penyempurnaan relief, penambahan pagar langkan terluar perubahan tangga dan pelengkungan atas gawang pintu serta pelebaran ujung kaki.


Penemuan kembali :

Borobudur seperti terkubur oleh lapisan tanah dan debu vulkanik yang kemudian ditumbuhi pohon dan semak belukar setelah berabad-abad terkubur akibat dari letusan Gunung Merapi. Diduga dalam kurun waktu 928-1006 sejak dipindahkannya Ibu kota kerajaan Medang ke kawasan Jawa Timur oleh Raja Mpu Sindok dan beralihnya keyakinan penduduk kepada islam pada abad ke-15 menyebabkan Borobudur ditinggalkan dan tidak lagi menjadi pusat ziarah umat Buddha. Selain itu menurut Babad Tanah Jawi(sejarah jawa) atau kisah takhayul pada abad ke-18 menyebutkan bahwa monumen ini merupakan faktor fatal yang dikaitkan dengan kesialan, kemalangan dan penderitaan sehingga tempat ini dianggap sebagai tempat yang angker dan juga menjadi tempat bersemayamnya roh halus. Pernah terjadi beberapa kesialan jika ada yang mengunjungi monumen ini namun hal itu lagi-lagi hanya sebatas takhayul.

Dalam kurun waktu lima tahun tepatnya pada tahun 1811-1816, ketika Jawa berada dibawah pemerintahan Britania (Inggris) setelah berhasil menang dengan Belanda untuk memperebutkan Pulau Jawa. Gubernur Jendral pada saat itu ialah Thomas Stamford Raffles yang tertarik akan sejarah Jawa. Kemudian ia mempelajari lebih jauh tentang kebudayaan Jawa oleh masyarakat setempat, ia juga mencari dan mengumpulkan kesenian jawa kuno berupa artefak-artefak antik.
Tahun 1814 ia mengunjungi Semarang dan dikabari mengenai sebuah monumen besar jauh didalam hutan dekat desa Bumisegoro. Namun pada saat itu ia berhalangan hadir karena tugas-tugasnya maka ia mengutus H.C Cornelius yang merupakan seorang insinyur Belanda. Cornelius ditugaskan untuk menyelidiki tentang bangunan besar ini, bersama 200 bawahannya Cornelius menebang pepohonan dan semak yang tumbuh disekitar bukit Borobudur serta membersihkan lapisan tanah yang membuat candi ini terkubur. Pekerjaan ini membutuhkan waktu sekitar 2 bulan namun tidak semua Lorong dibersihkan dan digali karena ancaman  longsor. Setelah pekerjaannya selesai ia kembali dan melaporkan hasil penyelidikannya kepada Raffles beserta gambar-gambar sketsa candi Borobudur yang kemudian menarik perhatian dunia akan keberadaaan monumen yang pernah hilang, tersembunyi dan terkubur ini.

Setelah Cornellius, pemerintahan Belanda mengutus beberapa orang untuk meneliti lebih lanjut tentang monumen ini, diantaranya:
-          Hartman seorang pejabat pemerintahan Hindia-Belanda pada 1835 yang akhirnya membuat seluruh bagian bangunan ini terlihat dan menemukan Stupa utama yang tidak diketahui apa fungsinya hingga tetap menjadi misteri.
-          F.C Wilsen seorang insinyur pejabat Belanda dibidang teknik yang kemudian mempelajari dan menggambarkan tentang ratusan sketsa relief bangunan ini.
-          J.F.G Brumund pada tahun 1859 yang menolak bekerja sama dengan Belanda yang ingin menerbitkan artikel yang dibuatnya berdasarkan beberapa sketsa Wilsen.
-          C. Leemans pada tahun 1873 yang menggabungkan Monografi pada Borobudur berdasarkan penelitian sebelumnya.

Dalam beberapa waktu Borobudur pun menjadi sumber pendapatan bagi para pencuri, para kolektor pemburu artefak dan penjarah candi yang mengakibatkan Arca Buddha di Borobudur sering ditemukan tanpa kepala karena kepala Arca di Borobudur ini telah lama menjadi incaran oleh kolektor benda antik dan seluruh museum didunia.
Kepala inspektur artefak budaya pernah menyarankan pada tahun 1882 untuk membongkar Borobudur dan memindahkan reliefnya ke museum agar kondisi Borobudur tetap stabil dan tidak ada yang dicuri lagi. Namun hal tersebut dinilai terlalu berlebihan oleh Groenveldt yang merupakan seorang arkeolog yang diutus oleh Pemerintahan, ia berpendapat agar monumen ini dibiarkan saja untuk tetap utuh.

Dari beberapa penjarahan yang terjadi terdapat satu yang diizinkan oleh Pemerintahan Kolonial yaitu ketika Raja Thailand, Chulalungkom mengunjungi Jawa di Hindia-Belanda (pada saat ini ialah Indonesia)pada tahun 1896 pemerintahan Belanda lalu menghadiahkan delapan gerobak arca dan beberapa bagian Borobudur yang berupa dua patung singa, tangga, gerbang, lima arca Buddha bersama 30 batu dengan relief, batu yang berbentuk kala dan arca dwarapala yang pernah berdiri di Bukit Dagi yang saat ini dipamerkan di Museum Nasional di Bangkok.

Konsep Rancangan dalam Pembangunan Borobudur

Pada umumnya, Borobudur adalah sebuah stupa yang jika dilihat dari atas akan membentuk menyerupai pola Mandala Besar yang berarti sebuah pola rumit yang tersusun atas bujursangkar dan lingkaran konsentris yang melambangkan alam semesta atau Kosmos.
Borobudur memiiki sepuluh pelataran yang menggambarkan filsafat Mazhab dan Kosmologi yang berarti konsep dari alam semesta, sekaligus tingkatan alam pikiran dalam ajaran agama Buddha. Sepuluh tingkatan dalam Borobodur ini juga menggambarkan tingkatan Bodhisattva yang harus dilalui agar mencapai kesempurnaan untuk menjadi Buddha. Pada tahun 1885 ditemukan struktur tersembunyi di kaki Borobudur yang terdapat relief yang 160 diantaranya mengisahkan tentang Karmawibhangga, namun penemuan struktur tersembunyi ini belum diketahui fungsinya.
Dalam Kosmologi Buddha diketahui terdapat tiga tingkatan ranah spiritual, yakni :
-  Kamadhatu yang terletak di bagian kaki Borobudur yang artinya dunia masih dikuasai oleh nafsu rendah.
- Rupadhatu yang disebut para ahli sebagai empat undak-an teras yang membentuk lorong keliling dan terdapat galeri relief pada dindingnya. Rupadhatu sendiri ialah dunia yang sudah dapat membebaskan diri dari nafsu tetapi masih terikat oleh rupa dan bentuk.
- Arupadhatu, berbeda dengan lorong-lorong Rupadhatu yang memiliki banyak relief, tingkatan ini dindingnya tidak berelief dimulai dari latar kelima hingga ketujuh. Arupadhatu yang berarti tidak berupa atau tidak berwujud dan melambangkan alam atas dimana manusia sudah bebas dari semua keinginan dan ikatan bentuk atau rupa, namun belum mencapai nirwana.

Tingkatan tertinggi yang dilambangkan berupa stupa terbesar dan tertinggi menggambarkan ketiadaan wujud yang sempurna. Pernah ditemukan dalam stupa terbesar sebuah patung Buddha yang tidak sempurna yang diperkirakan sebagai patung “Adibuddha” dan beberapa juga ditemukan stupa tama yang dibiarkan kosong diduga bermakna kebijaksanaan tertinggi yaitu kesunyian, ketenangan dimana jiwa manusia tidak terikat lagi oleh keinginan-keinginan.

 

Struktur bangunan

Diperkirakan untuk membangun candi ini dibutuhkan batu andesit yang diangkut dari tambang batu sebanyak 55.000 meter kubik yang dipotong berdasarkan ukuran tertentu dan disatukan tanpa menggunakan semen atau disebut juga sebagai sistem interlock (sistem saling kunci). Sistem ini digunakan dengan cara batu-batu disatukan dengan tonjolan dan lubang yang tepat dan muat satu sama lain serta bentuk ekor merpati yang mengunci dua blok batu. Dan relief-relief dibuat setelah semua struktur rampung.

Di Borobudur untuk mencegah terjadinya genangan air atau banjir dibuat sistem drainase yang berupa 100 pancuran disetiap sudut dengan rancangan berbentuk kepala raksasa kala atau makara. Perbedaan Borobudur dengan candi lainnya ialah karena Borobudur dibangun disebuah bukit bukan di permukaan datar seperti candi pada umumnya, Borobudur juga tidak memiliki tempat pemujaan berupa ruang-ruang melainkan hanya lorong-lorong yang diperkirakan sebagai tempat melakukan upacara dengan berjalan kaki mengelilingi candi searah jarum jam.
Pada awalnya diperkirakan Borobudur merupakan sebuah stupa bukan candi ataupun kuil, stupa yang dimaksudkan sebagai bangunan suci untuk memuliakan Buddha sedangkan kuil atau candi ialah rumah ibadah. Dan diduga bahwa bentuk punden berundak yang merupakan struktur dari Borobudur ialah bentuk arsitektur asli pada masa prasejarah di Indonesia.

Ukuran Borobudur

Dalam perancangan pembangunannya Borobudur menggunakan satuan ukur tala yaitu ukuran atau jarak antara sejengkal tangan manusia mulai dari ibu jari sampai jari kelingking dengan menggunakan perbandingan rasio 4:6:9 yang dinilai mempunyai fungsi dan makna dari penanggalan, astronomi dan kosmologi.
Struktur bangunan Borobudur dibagi menjadi tiga bagian yakni: kaki atau dasar yang berukuran 123x123m dengan tinggi 4m, tubuh candi yang terdiri dari lima batu teras berbentuk seperti bujur sangkar yang semakin mengecil pada bagian atasnya. Tinggi asli dari Borobudur dengan payung atau chattra diperkirakan 42m. Pintu utama terletak di sisi timur yang merupakan titik awal untuk membaca kisah relief.

Relief Borobudur

 Dalam relief di bangunan ini menampilan banyak gambar seperti sesosok bangsawan yang baik, aneka tumbuhan dan hewan, pertapa, rakyat jelata serta terdapat bangunan vernakular tradisional Nusantara. Salah satu relief yang diteliti oleh para ahli ialah Kapal Borobudur yang menunjukkan kehidupan bahari pada purbakala, kemudian disimpan di museum Samudra Raksa.
Untuk membaca relief ini menggunakan mapradaksina yaitu membaca searah dengan arah jarum jam atau ke kanan.
 Secara singkat cerita pada relief candi memiliki makna , yakni :
-          Karmawibhangga yang namanya dijadikan sebagai Museum di utara candi Borobudur memiliki arti yakni naskah yang menggambarkan ajaran mengenai hukum karma yakni sebab-akibat seseorang dalam melakukan perbuatannya yang baik maupun jahat.
-          Lalitawistara merupakan gambaran dari riwayat sang Buddha dalam deretan relief-relief yang dimulai dengan turunnya sang Buddhadari surga tushita dan berakhir dengan wejangan pertama di taman Rusa.
-          Jataka merupakan berbagai cerita tentang Sang Buddha yang menonjolkan sifat-sifat baik
-          Awadana  adalah cerita tentang penggambaran seseorang yang memilki sifat-sifat baik.
-          Gandawyuha adalah deretan relief yang menghiasi dinding pada lorong ke-2  yang menggambarkan tentang usaha tanpa kenal lelah dalam mencari pengetahuan.

Pemugaran yang dilakukan di Candi Borobudur

Pemerintah Hindia-Belanda mulai memikirkan untuk menjaga kelestariannya setelah ditemukan kaki tersembunyi pada tahun 1885 oleh Yzerman dan dilakukan ;
·         Tahun 1900 pembentukan komisi yang terdiri dari Theodoor Van Erp, Van de kamer dan Brandes yang merupakan orang-orang pilihan.
·         Tahun 1902 dilakukan 3 langkah perbaikan yakni mengatur sudut-sudut yang dikira saling membahayakan memperkuat stupa dan pagar, memagari halaman candi memperbaiki drainase , dan pembersihan pagar serta pemugaran stupa. Perbaikan ini diperkirakan menghabiskan biaya 48.800 Gulden
·         Tahun 1907-1911 penggalian untuk menemukan kepala Buddha yang hilang pembangunan beberapa teras dan stupa dan melakukan rekontruksi ulang yang membutuhkan biaya 34.600 gulden. SetElah perbaikan ini hanya dilakukan pembersihan patung-patung dan batu.
·         Tahun 1973-1982 atas permintaan dari Pemerintah Indonesia yang mulai khawatir akan bangunan ini maka UNESCO melakukan perbaikan besar-besaran. Sistem drainase, pemugaran dan pengokohan bangunan ini pun dilakukan hingga membutuhkan biaya sebesar 6.901.243 dollar AS.



Borobudur dalam Pariwisata

Setelah beberapa kejadian yang menimpa Candi Borobudur seperti Gunung Merapi , hal ini tidak membutuhkan waktu yang lama untuk membuat wisatawan kembali mengunjungi candi ini. Karena tiap tahunnya jumah wisatawan tetap meningkat , pada tahun 2012 jumlah pengunjung sampai bulan agustus diperkirakan sudah mencapai 2.027.000 (target:2.243.046) dengan perkiraan 20ribu pengunjung setiap harinya, namun wisatawan terus bertambah terutama saat memasuki musim liburan. Para wisatawan ini memang masih didominasi oleh wisatawan nusantara yang berasal dari daerah di Provinsi Jawa Tengah, Jawa Barat, Jawa Timur dan DKI Jakarta. Sedangkan wisatawan mancanegara yang berkunjung berasal dari negara Belanda, Jepang, Perancis, Jerman dan Malaysia.
Namun dalam segi Ekonomi untuk masyarakat sekitar candi, Pemerintah kurang mengupayakan agar Borobudur tetap memberikan dampak ekonomi dan membuka lapangan pekerjaan untuk masyarakat. Pemerintah tidak menyediakan tempat untuk para pedagang kecil untuk berjualan tetapi hal itu dikarenakan agar para wisatawan tidak terganggu dan tetap merasa nyaman.



Harga tiket masuk Borobudur

Tiket masuk untuk menuju Borobudur terus meningkat hal ini dikarenakan mungkin dengan adanya beberapa upaya yang harus dilakukan agar Borobudur tetap terjaga hingga membutuhkan biaya tambahan dan semakin dekat dengan musim liburan. Namun memang perlu disesalkan dengan kenaikan harga tersebut masih banyak pedagang asongan yang masuk kedalam Candi dan tak jarang mereka memaksa agar pengunjung mau membeli.
Saya pernah mengunjungi Candi Borobudur pada tahun 2011 harga tiket masuknya masih sebesar Rp.10.000,- untuk Pelajar mungkin karena saya berombongan makanya harganya lebih murah. Namun pada 2012 harga tiket masuk untuk Wisatawan Nusantara sebesar Rp30.000,- untuk umum dan Rp.15.000,- untuk Pelajar. Sedangkan untuk Wisatawan Mancanegara dipungut biaya sebesar $15 dan $8 untuk Pelajar Wisatawan Mancanegara. Waktu buka: Senin-Minggu pukul 07.00-18.00.

TIPS BERKUNJUNG

Sedikit tips yang bisa saya berikan untuk anda yang ingin berkunjung ke candi ini :
·         Pakailah pakaian yang sopan ketika berkunjung terutama pada perayaan Waisak bulan mei.
·         Sewalah payung ketika ingin berjalan menuju Candi karena jalan untuk mencapai candi ini cukup jauh dengan cuaca matahari yang terik atau sekedarlah memakai topi. Gunakanlah jasa Pemandu Wisata resmi jika ingin mendapatkan Informasi untuk lebih jelasnya, biaya sewa Pemandu Wisata kira-kira Rp 50.000,-.
·         Belilah sedikit souvenir khas Borobudur dikios-kios atau pedagang kaki lima disekitar Borobudur.
·         Tetap jaga kelestarian dan keasrian tempat ini dan jangan pernah merusak keasliannnya ketika berkunjung, buang sampah pada tempatnya dan jangan mencorat-coret pada dinding Candi ini.
·         CP: PT TAMAN WISATA CANDI BOROBUDUR, Jl.Raya Yogya-Solo km 16 Prambanan, Sleman, D.I.Y 55571, phone: +62 274 496 402, email: corporate@borobudurpark.co.id
 Penutup dan Kesimpulan

Setelah saya membuat tulisan ini saya menyimpulkan bahwa tak apa rasanya bila tiket masuk naik harganya tetapi hal ini perlu dibarengi dengan kenyaman yang perlu ditingkatkan. Pemerintah rasanya perlu lebih mencampuri akan hal ini dikarenakan masih banyak hal yang menarik di Borobudur yang bisa dipelajari dan dketahui.
Agar salah satu Situs Warisan Dunia ini bisa tetap terjaga untuk Pariwisata yang bisa dimanfaatkan untuk generasi selanjutnya. Mari kita jaga situs ini dengan membantu Pemerintah untuk mengembangkannya  Saya rasa sekian yang bisa saya berikan. Mohon maaf apabila ada kesalahan dikarenakan kurangnya informasi dan saya masih dalam proses pembelajaran. Kritik dan saran yang membangun dikiranya sangat diperlukan dari para pembaca, terima kasih.



Sumber Referensi


Visit Indonesia, Informasi Pariwisata Nusantara hal 371
Ilmu Pengetahuan Sosial kls. 7, Grand Star  “ Prasasti-Prasasti Kuno” Winarto,S.Pd
The Magnificence of Borobudur Larisa 1995



TRIS MAYULFA
4423125297
USAHA JASA PARIWISATA


Tidak ada komentar:

Poskan Komentar