Rabu, 26 Desember 2012

sumpah palapa,1331 - diorama 5


Sejarah Indonesia

Nama   :  Anisa Wahyu Utami

No reg   :  4423125300

Usaha Jasa Pariwisata 2012 - UNJ

Diorama 5 – Sumpah Palapa 1331

Sumpah Palapa

Sesudah Gajah Mada berhasil menyelesaikan Perang Sadeng 1331,maka untuk membela keutuhan Negara Majapahit dia bersumpah tidak akan makan Palapa sebelum Nusantara dapat dipersatukan .

Sumpah Palapa adalah pendahulu cita-cita persatuan Indonesia yang kemudian diperjuangkan oleh para perintis kemerdekaan sejak tahun 1908.

Sumpah Palapa adalah suatu pernyataan/sumpah yang dikemukakan oleh Gajah Mada pada upacara pengangkatannya menjadi Patih Amangkubhumi Majapahit, tahun 1258 Saka (1336 M).

Sumpah Palapa ini ditemukan pada teks Jawa Pertengahan Pararaton, yang berbunyi,

Sira Gajah Madapatih Amangkubhumi tan ayun amuktia palapa, sira Gajah Mada: "Lamun huwus kalah nusantara isun amukti palapa, lamun kalah ring Gurun, ring Seran, TaƱjung Pura, ring Haru, ring Pahang, Dompo, ring Bali, Sunda, Palembang, Tumasik, samana isun amukti palapa".

 Terjemahannya.

 

Beliau Gajah Mada Patih Amangkubumi tidak ingin melepaskan puasa. Ia Gajah Mada, "Jika telah mengalahkan Nusantara, saya (baru akan) melepaskan puasa. Jika mengalahkan Gurun, Seram, Tanjung Pura, Haru, Pahang, Dompo, Bali, Sunda, Palembang, Tumasik, demikianlah saya (baru akan) melepaskan puasa".

 

 

 

 

 

            

 1. Naskah Kuno Sebagai Sumber Pencerahan

 

Hanya dengan kekuatan Ketuhanan Yang Maha Esa yang bersemayam pada manusia-manusia Indonesia yang mengerti, Indonesia akan terhindar dari calon giliran sasaran tembak kekuatan-kekuatan asing yang berbahaya. Dalam rangka mencari pencerahan inilah kita perlu merenung melalui naskah-naskah kuno yang mampu menjadi perekat atau semen bagi bangsa-bangsa di Nusantara. Di jaman Majapahit perekat bangsa-bangsa di Nusantara sudah ada, yaitu berupa Sumpah Palapa, sebuah sumpah yang diucapkan oleh Gajah Mada ketika ia mendapatkan kehormatan di wisuda menjadi Patih Amangkubhumi, tahun 1336 Masehi. Sumpah Palapa intinya adalah mengusahakan kesatuan dan persatuan Nusantara. Bahasa sekarang : Negara Kesatuan Republik Indonesia / NKRI.

2. INTEGRASI MAJAPAHIT dibawah “Sumpah Palapa”


Gagasan Penyatuan Bumi Nusantara (Cakrawala Mandala). Gagasan mengenai cakrawala mandala atau wawasan nusantara, sebenarnya sudah ada sejak Raja Kertanagara, yakni sejak Kerajaan Singosari. Pada masa pemerintahannya, Kertanagara sudah mampunyai cita-cita untuk meluaskan wilayah kekuasaannya hingga ke luar Jawa. Tindakan Kertanagara untuk meluaskan kekuasaannya ke luar Jawa tersebut sebenarnya dilakukan untuk menghadang ancaman dari Cina, yakni kaisar Khubilai Khan dari dinasti Yuan, yang juga sedang melebarkan kekuasaannya hingga ke daerah selatan (Burma, Kamboja, Campa, hingga ke Jawa). Disinilah Kertanagara mengubah dari yawadwimandala (berpusat pada Jawa) ke cakrawala mandala (perluasan sampai ke luar pulau Jawa). Namun, apa yang telah dilakukan oleh Kertanagara ini sempat terhenti karena penyerangan Jayakatwang dari Kediri (1292).

Barulah kemudian cita-cita cakrawala mandala ini dilanjutkan oleh Raden Wijaya. Ia adalah pendiri kerajaan Majapahit, dimana kerajaan ini akan menjadi sebuah kerajaan yang besar dan tersohor. Pada masa Raden Wijaya ini yang disebut sebagai proses integrasi awal Majapahit. Dalam prasasti Adan-adan (1301) dan prasasti Balawi (1305), menyebutkan bahwa keempat putri Kertanagara yang dinikahi oleh Wijaya (catus dewika) merupakan catus prakara (empat cara, jalan, tembok), dan melambangkan pakrti (sifat, watak, pekerti) pulau Bali, Melayu, Madura, dan Tanjungpura. Tribhuwaneswari melambangkan prakrti pulau Bali, Narendraduhita – Melayu, Pradjnaparamita – Madura, dan Gayatri – Tanjungpura. Jalaslah bahwa wawasan Nusantara (perluasan Cakrawala Mandala) yang dirintis oleh Kertanagara, secara simbolis diteruskan oleh menantunya, Kertarajasa Jayawardhana (pendiri kerajaan Majapahit). Dan Sejarah telah membuktikan bahwa integrasi awal kerajaan Majapahit telah tercapai, yakni dengan berdirinya Kerajaan Majapahit.

Kemudian integrasi Majapahit selanjutnya dan mencapai puncaknya pada masa pemerintahan dipegang oleh seorang mahapatih, yakni Patih Amangkubumi Gajah Mada. Dimana dengan sumpah Nusantaranya, Sumpah Palapa, dihadapan Maharani Tribhuwanottunggadewi, ia berhasil menyatukan Bumi Nusantara dibawah kekuasaan kerajaan Majapahit.

Gajah Mada dan Sumpah Palapa. Gajah Mada awalnya hanyalah seorang Bekel Bhayangkari (kepala prajurit pengawal raja). Kemudian ia tampil ketika terjadi peristiwa di Bedander , yakni pemberontakan oleh Kuti tahun 1319. Karena keberhasilannya memadamkan pemberontakan Kuti dan menyelamatkan sang Raja, maka Jayanagara mengangkat Gajah Mada menjadi Patih di Kahuripan (sekarang di sekitar Surabaya) pada tahun itu juga. Dan dua tahun kemudian (1321) ia kemudian diangkat menjadi Patih di Daha (sekitar Kediri-Malang).

Baru pada masa pemerintahan Tribhuwanottunggadewi, Gajah Mada diangkat menjadi Maha Patih Amangkubumi di Majapahit (1331) menggantikan Arya Tadah. Pengangkatan Gajah Mada ini dilakukan setelah keberhasilannya menundukkan Sadeng (di tepi sungai Badadung, Puger, antara Lumajang-Jember) pada tahun 1331.

Pada masa inilah Gajah Mada mengucapkan Sumpah Nusantaranya dihadapan Maharani Tribhuwanottunggadewi. Sumpah ini dikenal sebagai Sumpah Palapa. Bunyi Sumpah Gajah Mada adalah sebagai berikut:

“lamun huwus kala nusantara isun amukti palapa, lamun kalah ring Gurun, ring Seran, ring Tanjungpura, ring Haru, ring Pahang, Dompo, ring Bali, Sunda, Palembang, Tumasik, samana isun amukti palapa”. Ia berjanji bahwa, “apabila sudah kalah nusantara, saya menikmati palapa, kalau sudah kalah Gurun, Seran, Tanjungpura, Haru, Pahang, Dompo, Bali, Sunda, Palembang, Tumasik, waktu itulah saya menikmati palapa” .

Arti kata palapa sendiri menimbulkan berbagai pendapat.

  • § Menurut Poerbatjaraka: palapa dari kata alap, artinya menikmati daerah Lungguh.
  • § V.d. Tuuk berpendapat: palapa dari kata lapa, artinya beristirahat.
  • § Crueq: palapa berarti cuti.
  • § Berg: palapa dari kata lapa (lapar), dan diartikan sebagai brata (tapa-brata) – penyiksaan diri.
  • § Pendapat yang menarik dan masuk akal, serta menggugurkan semua pendapat di atas adalah pendapat Karsana (seorang guru bantu sebuah SD di Lumajang). Ia berpendapat bahwa: palapa (Jawa Kuno) sama dgn plapah (Jawa Baru), berarti bumbu-bumbu, bumbu yang terpenting yakni garam (bumbu pokok). Dengan demikian Patih Gajah Mada menjalani puasa mutih.

Realisasi sumpah nusantara itu dilaksanakan mulai tahun 1334 sampai dengan tahun 1357. Berakhirnya perluasan Cakrawala Mandala ditandai dengan adanya peristiwa Pasunda Bubat tahun 1357. Peristiwa ini merupakan perang antara tentara Majapahit melawan tentara Sunda. Peristiwa ini, dikatakan sebagai kegagalan Patih Gajah Mada dalam nenundukkan Kerajaan Pajajaran (Sunda, Jawa Barat).

3. Pararaton dan Negarakretagama

Sebagai Perekat NKRI, terdapat kitab Pararaton –ditulis dalam tahun 1613M (Padmapuspita, 1966 : 91)-- dan Negarakretagama –ditulis dalam tahun 1365 M ke posisi sentral yang terhormat dan mulia, sebab naskah Pararaton menyebut di dalamnya Sumpah Palapa yang terkenal itu, sedangkan Negarakretagama memuat wilayah negeri yang masuk dalam kekuasaan dan wibawa Majapahit. Sumpah Palapa yang dicanangkan oleh Gajah Mada dilakukan ketika Gajah Mada dilantik sebagai Patih Amangkubhumi kerajaan besar Majapahit, pada tahun Saka 1258, atau tahun Masehai 1336. Jadi pentingnya Pararaton dibicarakan di sini, karena ia memuat Sumpah Palapa. Sedang pentingnya Sumpah Palapa karena di dalamnya terdapat pernyataan suci yang diucapkan oleh Gajah Mada yang berisi ungkapan “lamun huwus kalah nusantara isun amukti palapa” (kalau telah menguasai Nusantara, saya melepaskan puasa/ tirakatnya).

Gajah Mada yang diangkat sebagai patih di Kahuripan (1319-1321) oleh raja Jayanegara dari Majapahit. Dan pada tahun 1331, naik pangkat Gajah Mada menjadi Mahapatih Majapahit yang diangkat oleh raja Tribuana Tunggadewi.

Ketika pelantikan Gajah Mada menjadi Mahapatih Majapahit inilah keluar ucapannya yang disebut dengan sumpah palapa yang berisikan "dia tidak akan menikmati palapa sebelum seluruh Nusantara berada dibawah kekuasaan kerajaan Majapahit".

Ternyata dengan dasar sumpah palapanya inilah Gajah Mada merasa tidak senang ketika mendengar dan melihat bahwa Samudera-Pasai-Islam di Aceh makin berkembang dan maju.

Pada tahun 1350 Majapahit menggempur Samudera-Pasai dan mendudukinya. 27 tahun kemudian pada tahun 1377 giliran Sriwijaya digempurnya, sehingga habislah riwayat Sriwijaya sebagai negara buddha yang berpusat di Palembang ini.

4. Pemerintahan Tribuhuwana

Pemerintahan Tribhuwana terkenal sebagai masa perluasan wilayah Majapahit ke segala arah sebagai pelaksanaan Sumpah Palapa. Tahun 1343 Majapahit mengalahkan raja Kerajaan Pejeng (Bali), Dalem Bedahulu, dan kemudian seluruh Bali. Tahun 1347 Adityawarman yang masih keturunan Malayu dikirim untuk menaklukkan sisa-sisa Kerajaan Sriwijaya dan Kerajaan Malayu. Ia kemudian menjadi uparaja (raja bawahan) Majapahit di wilayah Sumatra. Perluasan Majapahit dilanjutkan pada masa pemerintahan Hayam Wuruk, di mana wilayahnya hingga mencapai Lamuri di ujung barat sampai Wanin di ujung timur.

Pada tahun 1331 Masehi ia menumpas pemberontakan daerah Sadeng dan Keta. Menurut Pararaton terjadi persaingan antara Gajah Mada dan Ra Kembar dalam memperebutkan posisi panglima dalam penumpasan Sadeng. Maka, Tribhuwana pun berangkat sendiri sebagai panglima menyerang Sadeng, didampingi sepupunya, Adityawarman.

5.  Gajah Mada berjuang tanpa pamrih

Meski tidak di ketahui kapan lahir, dari mana asal-usul, dan di mana kuburnya, Gajah mada mempunyai tujuan hidub luarbias, jauh melampaui zamanya, cintanya kepada Rakyat jelata dan kesetiaanya kepada Negara merupakan teladan mulia bagi semua, Sepilingb pamrih, Terlahir sebagai anak desa yang sederhana, Gajah Mada berhasil meraih kedudukan tinggi berkat kecerdasan , Kecerdikan dan kemampuanya yang luar biasa.

Menurut Gajah Mada Sebagai seorang Pemimpin harus memiliki Enam Sifat yaitu:

  1. Abikamika-Simpatik, berorentasi kebawah, dan lebih mengutamakan kepentinganumum dari pada kepentingan pribadi atau golongan sendiri.
  2. Prajma-aktif, bijaksana dan menguasai berbagai ilmupengetahuan, seni agama serta dapat di jadikan panutan oleh Rakyat.
  3. Usaha-proaktif, kreatif, inovatif, serta rela berkorban dan mengabdi tanpa pamrih untuk kesejahteraan rakyat.
  4. Atma Sampad-berbudi luhur berintergitas tinggi objektif dan mempunyai wawasan jauh kedepan demi kemajuan bangsa.
  5. Sakya samanta-mampu mengawasi bahwa dari segala kegiuatan keprajuritan dan kenegaraan serta berani bertindak tegas secara adil tanpa pilih kasih.
  6. Aksudra pari sakta-akomodatif, ceeerdik dalam berunding, cukup dalam bertutur kata, mampu menyatukan perbedaandengan cara bermusyawarah.

Sebagai panglima militer seorang pemimpin harus memiliki catur darmaning nerpati:

  1. Jana wisesa suda-menuasai segala macam ilmu dan agama, teori dan praktek.
  2. Kaprahitaning praja- memiliki sifat welas asih dan peduli kepada bawahanya
  3. Karwiyan- mempunyai keberanian untuk menegakkan kebenaran dan keadilan
  4. Kawibaawan- berwibawa agar setiap rencana dan pemerintah dapat terlaksan

Di samping itu seorang pemimpin juga harus memiliki sifat utama pendawa lima:

  1. Ngesti aji- cari dan amalkan nelmu suci lan agama (Yudistira=Samiaji)
  2. Ngesti giri-cari kekuatan seperti gunung dalam menegakkan kebenaran (Bima)
  3. Ngesti Jaya- cari kemenangan dalam menduduki sifat buruk, lahir batin (Arjuna)
  4. Ngesti Nangga- cari ketangguhan tanggap dalam segala keadaan (Nakula)
  5. Ngesti Piambada- cari upaya untuk membahagiakan (Sadhewa)

Prapancara dalam Kitab Kertagama menggambarkan Lima Belas Tabiat Istimewa Gajah Mada:

  1. Wija- Bijaksana dalam mengatasi dan menyelesaikan segala permasalahan Negara
  2. Mantra Wira-bertindak berani dan tegas dalam membela kepentiingan Negara
  3. Wicaksaneng Nata-kebijaksana dalam membina hubungan dengan semua pihak
  4. Matangwan- bertanggung jawab penuh atas kepercayaaan yang di berikan kepadanya
  5. Satya bhakti Prabu- Setia dengan hati yang tulus iklas kepada neghara dan Raja
  6. Wakmi Wak- teguh mempertahankan pendirian dengan alas an dan keyakinan kuat
  7. Sarjawopasama- Ramah, sepi ingin pamrih, sabar dan menghadapi cobaan
  8. Dirotsaha- bekerja dengan rajindan sungguh sungguh
  9. Tanlana-tidak pernah sedih dan putus asa
  10. Duwi Yacita- selalu berbaik hati dalam berhubungan dengan orang lain
  11. Masihi Samastu Huono- menyayangi seluruh makluk tuhan
  12. Ginung Ratidina- mengerjakan hal yang baik dan menghindari hal yang jelek
  13. Sumaniri- pegawai Negara yang ahli sesuai dengan bidang yang di tekuni
  14. Anayaken Musuh- menyingkirkan musuh dan rintangan yang mengganggu
  15. Tansatrisna- tidak memiliki keinginan untuk menjatuhkan karjer orang

TAK ADA GADING YANG TAK RETAK: Gajah Mada terpleset sumpah sendiri

Demikian Gayatri Wafat (tahun 1350), Tri Buanatunggadewi turun Tahta dan menyerahkan kekuasaanya kepada putranya, Hayam Wuruk (16 tahun), yang arti hafiahnya adalah ayam jago mabuk untuk menggambarka keberanian dan ketrampilan dalam berkelahi. Hayam Wuruk bergelar Sri Rajasa  adalah raja terbesar seluas hamper sama dengan wilayah NKRI kini, bahkan meliputi Malaka, (tahun 1350-1389). Bersama maha Amengkubumi Gajah Mada, Gajah MAda membawa MAjapahit ke masa keemasan, dengan armada laut yang kuat di bawah pimpinan Laksamana Nala.

Menurut kitab Negara Kartagama (Mpu Prapanca)Wilayah majapahit meliputi:

  1. Seluruh Jawa(jawaduwipa): Jawa, Madura, Galiyao (Kangean-Bawean)
  2. Seluruh Pulau Sumatra (Swarmaduwipa atau Andalas): Lampung, Palembang, Jambi, Karitang (Gayo luas), Samudra (aceh), Lamuri (aceh segi tiga), Bantam, Barus
  3. Seluruh Pulau Kalimantan (Nusa Tanjungnagara): Kapuas, Kantingan, Sampit,  Kuta lingga, ( Serawak), Sedang ( Sertawak), Kuta Waringin, Sambas, LAwi, Kadangdangan, Landa, Samedang (Simpang), Tirem, Sedu,  (Serawak), Berune, Kalka saludung, Solot (Solok, Sulu), PAsir, Baritu, Sawaku, TAbalung, (Amuntai), TAnjung Kutari, MAlano, Tanjungpuri
  4. Seluruh semenanjung Melayu (Hujung Medini): Dungun Padang,Keda, Semang, Kalanten, Tringano, Nagor, (Liggor), Pakamuar, Tumasik, (Singapura, Shoman), Sangyang Hujung, Kelang (negri Sembilan), Lengasuka Jere, (Patani), Knjab, (Singkap), Nirem, (Karimun)
  5. Seluruh sunda kecil (Nusatenggara): Bali, Bedahulu, Lwagajah, nusa Penida, Taliwang (Sumbawa), Sapi, Dompo, Hutan, (Sumbawa), Sangyang Api, (gunging Api Sangeang), Bima, Serang, Kedali (Buru), Gurun (Gorong), Lombok Mirah, (Lombok barat), Saksak, (Lombok timur), Sumjba, Timur
  6. Seluruh Sulawesi (Sakanusa): Batayan, (Bontain), Luwuk (Luwu), Udamakatraya, (Talut), gowa, Makasar, Tuwu (Buton), Banggawi, Kunir (P. Kunyit), Saloya Solor
  7. Seluruh Maluku: muar, (Kei), Wandan (Banda), Ambawan, Ternate, hutan Kadali
  8. Seluruh Irian Barat (Papua Barat): Wanin, (Utara), dan Sran (Selatan)

Sedangkan Negara Majapahit adalah Siam ( Syanka), Dharmanegara, Martaban (Bima), Kalingga,  (Rajapura), Singganasari, Campa, Kamboja, Annam ( Yamana), Gajah mada menempatkan seluruh daerah kekuasaan Nusantara dalam lingkungan Asia, terbagi atas 3 Lingkar: Maja[pahit sebagai pusat, Negara tetangga sebagai Lingkar dalam untuk Buffer, dan Negara besar (Tiongkok dan Industan), sebagai lingkar luar.

Hayam wuruk jatuh cinta Kepada Dyah Pitaloka Citrayasmi yang sangat cantik, pasngan Raja Linggabuana dan Subang Larang (Larangt Lising), dari sunda (Galuh Kawali), pitaloka mempunyai tiga adik, Niskala Menjadi Raja galuh, seorang menjadi Raja Cirebon, Cakrabuana (atau Walang Sungsang), dan Lara Santang. Galuh Kawali mempunyai ikatan keluarga dengan Cirebon dan Banten (gambar 5).

Rencana perkawinan Hayam Wuruk dengan pitaloka di jadikan komoditas Politik oleh Gajah Mada, gajah Mada minta agar Pitaloka di persembahkan sebagai tanda takluknya galuh kepada Majapahit, merasa begitu terhina, Linggabuana dan pengikutnya memilih gugur dalam peperangan yang tak seimbang, perang Bubat tahun 1357 adalah salah satu contoh kegagalan Gajah mada dalam mengemplimentasikan Sumpah Palapa.

 

 

Sumber

  • internet






 

  • buku :

1.      Gajah Mada: Hamukti Palapa (Gajah Mada #3)

                         Langit Kresna Hariadi .

2.      Sejarah untuk kelas 3 SMA –M.Habib Mustopo

 
3.      Buku pedoman umat Buddha edisi 5




 

           

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar