Rabu, 26 Desember 2012

SUMPAH PEMUDA



SUMPAH PEMUDA


Sumpah Pemuda merupakan bukti otentik bahwa pada tanggal 28 Oktober 1928 Bangsa Indonesia dilahirkan, oleh karena itu seharusnya seluruh rakyat Indonesia memperingati momentum 28 Oktober sebagai hari lahirnya bangsa Indonesia, proses kelahiran Bangsa Indonesia ini merupakan buah dari perjuangan rakyat yang selama ratusan tahun tertindas dibawah kekuasaan kaum kolonialis pada saat itu, kondisi ketertindasan inilah yang kemudian mendorong para pemuda pada saat itu untuk membulatkan tekad demi mengangkat harkat dan martabat hidup orang Indonesia asli, tekad inilah yang menjadi komitmen perjuangan rakyat Indonesia hingga berhasil mencapai kemerdekaannya 17 tahun kemudian yaitu pada 17 Agustus 1945.

Rumusan Kongres

Rumusan Kongres Sumpah Pemuda ditulis Moehammad Yamin pada secarik kertas yang disodorkan kepada Soegondo ketika Mr. Sunario tengah berpidato pada sesi terakhir kongres (sebagai utusan kepanduan) sambil berbisik kepada Soegondo: Ik heb een eleganter formulering voor de resolutie (Saya mempunyai suatu formulasi yang lebih elegan untuk keputusan Kongres ini), yang kemudian Soegondo membubuhi paraf setuju pada secarik kertas tersebut, kemudian diteruskan kepada yang lain untuk paraf setuju juga. Sumpah tersebut awalnya dibacakan oleh Soegondo dan kemudian dijelaskan panjang-lebar oleh Yamin.

Isi
Sumpah Pemuda versi orisinal:
Pertama : Kami poetera dan poeteri Indonesia, mengakoe bertoempah darah jang satoe, tanah Indonesia.
Kedoewa : Kami poetera dan poeteri Indonesia, mengakoe berbangsa jang satoe, bangsa Indonesia.
Ketiga : Kami poetera dan poeteri Indonesia, mendjoendjoeng bahasa persatoean, bahasa Indonesia.

Sumpah Pemuda versi Ejaan Yang Disempurnakan:
Pertama : Kami putra dan putri Indonesia, mengaku bertumpah darah yang satu, tanah air Indonesia.
Kedua : Kami putra dan putri Indonesia, mengaku berbangsa yang satu, bangsa Indonesia.
Ketiga : Kami putra dan putri Indonesia, menjunjung bahasa persatuan, bahasa Indonesia.

 
Kongres Pemuda Indonesia I
Panitia Kongres
Dalam upaya mempersatu wadah organisasi pemuda dalam satu wadah telah dimulai sejak Kongres Pemuda Pertama 1926. Oleh sebab itu, tanggal 20 Februari 1927 telah diadakan pertemuan, namun pertemuan ini belum mencapai hasil yang final.
Kemudian pada 3 Mei 1928 diadakan pertemuan lagi, dan dilanjutkan pada 12 Agustus 1928. Pada pertemuan terakhir ini dihadiri semua organisasi pemuda dan diputuskan untuk mengadakan Kongres pada bulan Oktober 1928, dengan susunan panitia dengan setiap jabatan dibagi kepada satu organisasi pemuda (tidak ada organisasi yang rangkap jabatan) sebagai berikut:
  • Ketua: Sugondo Djojopuspito (PPPI)
  • Wakil Ketua: R.M. Joko Marsaid (Jong Java)
  • Sekretaris: Muhammad Yamin (Jong Soematranen Bond)
  • Bendahara: Amir Sjarifudin (Jong Bataks Bond)
  • Pembantu I: Johan Mohammad Cai (Jong Islamieten Bond)
  • Pembantu II: R. Katjasoengkana (Pemoeda Indonesia)
  • Pembantu III: R.C.I. Sendoek (Jong Celebes)
  • Pembantu IV: Johannes Leimena (Jong Ambon)
  • Pembantu V: Mohammad Rochjani Su'ud (Pemoeda Kaoem Betawi)

Kongres Pemuda Indonesia II
Gagasan penyelenggaraan Kongres Pemuda Kedua berasal dari Perhimpunan Pelajar Pelajar Indonesia (PPPI), sebuah organisasi pemuda yang beranggota pelajar dari seluruh Indonesia. Atas inisiatif PPPI, kongres dilaksanakan di tiga gedung yang berbeda dan dibagi dalam tiga kali rapat.
Rapat pertama, Sabtu, 27 Oktober 1928, di Gedung Katholieke Jongenlingen Bond (KJB),  Waterlooplein (sekarang Lapangan Banteng). Dalam sambutannya, ketua PPPI Sugondo Djojopuspito berharap kongres ini dapat memperkuat semangat persatuan dalam sanubari para pemuda. Acara dilanjutkan dengan uraian Moehammad Yamin tentang arti dan hubungan persatuan dengan pemuda. Menurutnya, ada lima faktor yang bisa memperkuat persatuan Indonesia yaitu sejarah, bahasa, hukum adat, pendidikan, dan kemauan.
Rapat kedua, Minggu, 28 Oktober 1928, di Gedung Oost-Java Bioscoop, membahas masalah pendidikan. Kedua pembicara, Poernomowoelan  dan Sarmidi Mangoensarkoro, berpendapat bahwa anak harus mendapat pendidikan kebangsaan, harus pula ada keseimbangan antara pendidikan di sekolah dan di rumah. Anak juga harus dididik secara demokratis.
Pada rapat penutup, di gedung Indonesische Clubgebouw di Jalan Kramat Raya 106,  Sunario menjelaskan pentingnya nasionalisme dan demokrasi selain gerakan kepanduan. Sedangkan Ramelan mengemukakan, gerakan kepanduan tidak bisa dipisahkan dari pergerakan nasional. Gerakan kepanduan sejak dini mendidik anak-anak disiplin dan mandiri, hal-hal yang dibutuhkan dalam perjuangan.
Sebelum kongres ditutup diperdengarkan lagu "Indonesia Raya" karya Wage Rudolf Supratman yang dimainkan dengan biola saja tanpa syair, atas saran Sugondo kepada Supratman. Lagu tersebut disambut dengan sangat meriah oleh peserta kongres. Kongres ditutup dengan mengumumkan rumusan hasil kongres. Oleh para pemuda yang hadir, rumusan itu diucapkan sebagai Sumpah Setia.

Peserta
Para peserta Kongres Pemuda II ini berasal dari berbagai wakil organisasi pemuda yang ada pada waktu itu, seperti Jong JavaJong AmbonJong Celebes, Jong BatakJong Sumatranen Bond, Jong Islamieten BondSekar RukunPPPI, Pemuda Kaum Betawi, dll. Di antara mereka hadir pula beberapa orang pemuda Tionghoa sebagai pengamat, yaitu Oey Kay Siang, John Lauw Tjoan Hok dan Tjio Djien Kwie namun sampai saat ini tidak diketahui latar belakang organisasi yang mengutus mereka. Sementara Kwee Thiam Hiong hadir sebagai seorang wakil dari Jong Sumatranen Bond. Diprakarsai oleh AR Baswedan pemuda keturunan arab di Indonesia mengadakan kongres di Semarang dan mengumandangkan Sumpah Pemuda Keturunan Arab.

Gedung
Bangunan di Jalan Kramat Raya 106, tempat dibacakannya Sumpah Pemuda, adalah sebuah rumah pondokan untuk pelajar dan mahasiswa milik Sie Kok Liong. Gedung Kramat 106 sempat dipugar Pemda DKI Jakarta 3 April-20 Mei 1973 dan diresmikan Gubernur DKI Jakarta, Ali Sadikin, pada 20 Mei 1973  sebagai Gedung Sumpah Pemuda. Gedung ini kembali diresmikan oleh Presiden Soeharto pada 20 Mei 1974. Dalam perjalanan sejarah, Gedung Sumpah Pemuda pernah dikelola Pemda DKI Jakarta, dan saat ini dikelola Kementrian Kebudayaan dan Pariwisata.
Catatan :
Sebelum pembacaan teks Soempah Pemoeda diperdengarkan lagu "Indonesia Raya" gubahan W.R. Soepratman dengan gesekan biolanya.
  1. Teks Sumpah Pemuda dibacakan pada tanggal 28 Oktober 1928 bertempat
    di Jalan Kramat Raya nomor 106 Jakarta Pusat sekarang menjadi Museum Sumpah Pemuda, pada waktu itu adalah milik dari seorang Tionghoa yang bernama Sie Kong Liong.
  2. Golongan Timur Asing Tionghoa yang turut hadir sebagai peninjau Kongres Pemuda pada waktu pembacaan teks Sumpah Pemuda ada 4 (empat) orang yaitu :
    a. Kwee Thiam Hong
    b. Oey Kay Siang
    c. John Lauw Tjoan Hok
    d. Tjio Djien kwie


Sejarah Pemikiran Tentang Sumpah Pemuda

1.    PEMIKIRAN MENGENAI BENTUK ORGANISASI
Lahirnya Budi Utomo sebagai perhimpunan kebangsaan Indonesia, segera disusul dengan berdirinya perhimpunan-perhimpunan kabangsaan yang lain. Tumbuhnya perhimpunan-perhimpunan kebangsaan tersebut adalah merupakan babak baru dalam perjuangan bangsa Indonesia. Gerakan mereka sudah mengambil bentuk lain, yaitu melalui organisasi yang mempunyai azas dan tujuan serta ideologi baru untuk menciptakan masyarakat baru. Dalam proses pendewasaan, ideologi ini berkembang menjadi hasrat untuk mendirikan negara nasional.
Pada pemuda pun tidak mau ketinggalan. Tujuh tahun setelah Budi Utomo berdiri, para pemuda Indonesia pun bangkit, mereka juga membentuk organisasi yang mereka harapkan dapat berfungsi sebagai penengah solidaritas sosial, penyalur cita-cita dan pemupuk cita-cita mereka. Organisasi tersebut mereka maksudkan untuk mendidik kader-kader pemimpin masa mendatang. Karena itu organisasi tersebut menyediakan forum bagi pendidikan kemasyarakatan, bahkan secara tidak langsung pendidikan politik dan saluran bagi pemuda untuk saling berdialog. Forum tersebut dapat menyadarkan para pemuda akan segala kekurangan mereka baik dibidang organisasi maupun ideal yang mereka punyai.
Pada mulanya bentuk organisasi-organisasi pemuda tersebut bersiasat kesukuan atau kedaerahan yang mengutamakan ikatan antara sesama pelajar sedaerah serta membangkitkan perhatian terhadap kebudayaan daerah masing-masing. Hal ini dapat dilihat pada organisasi-organisasi Tri Koro Dharmo (yang kemudian menjadi Jong Java), Jong Sumatranen Bond, Jong Ambon, Jong Minahasa, Jong Batak, Pemuda Betawi, Sekar Rukun dan Pemuda Timor.
Organisasi pemuda yang pertama muncul adalah Tri Koro Dharmo yang berarti Tiga Tujuan Mulia yaitu Sakti, Budi, Bakti. Dalam Anggaran Dasarnya dengan jelas disebutkan tujuan Tri Koro Dharmo yaitu :

1.      Menimbulkan pertalian antara murid-murid Bumi Putera pada sekolah menengah dan kursus perguruan Uitgebrid dan Vankondewijs.
2.      Menambah pengetahuan umum bagi anggota-anggotanya.
3.      Membangkitkan dan mempertajam perasaan buat segala bahasa dan kebudayaan Indonesia.


2.      PEMIKIRAN MENGENAI BAHASA PERSATUAN
Bahasa Melayu telah lama dipakai diseluruh Kepulauan Indonesia. Bahasa tersebut dipergunakan untuk saling berhubungan antara suku-suku bangsa yang ada di Indonesia seperti Jawa, Sunda, Batak, Aceh, Dayak, Banjar dan lain sebagainya. Demikian juga ketika orang-orang Eropa datang ke Indonesia, mereka juga mempergunakan bahasa  tersebut untuk berhubungan dengan penduduk Pribumi. Bahkan perjanjian-perjanjian dagang dan politik antara kerajaan-kerajaan Indonesia dengan Belanda juga memakai Bahasa Melayu. Bahasa ini juga dipakai dalam penyebaran agama Islam dan Kristen.
Pada mulanya Pemerintah Belanda bermaksud memakai bahasa pengantar di sekolah-sekolah bumi putera. Tetapi karena Pemerintah membutuhkan tenaga-tenaga Indonesia yang mampu berbahasa Belanda maka bahasa Bahasa mulai diajarkan di sekolah-sekolah dan di jadikan bahasa pengantar disekolah-sekolah. Hal itu terjadi pada awal XX. Dalam perkembangan lebih lanjut kedudukan bahasa Belanda menjadi sangat penting. Karena seseorang yang menguasai bahasa tersebut akan dianggap lebih tinggi derajat dan pengetahuannya. Dengan demikian bergeserlah pandangan masyarakat saat itu. Untuk mencapai status yang lebih tinggi, banyak orang tua ingin memasukan anaknya ke sekolah yang mengajarkan Bahasa Belanda. Akibatnya di kalangan bangsa Indonesia tumbuh segolongan pemuda yang dalam kegiatan sehari-harinya selalu berbahasa Belanda. Mereka ini tidak berminat lagi terhadap bahasanya sendiri.

3.      PEMIKIRAN MENGENAI FAHAM KEBANGSAAN
Menguatnya faham kebangsaan bagi bangsa Indonesia setelah mengukuhkan nama Indonesia menjadi nama tanah air Indonesia oleh perhimpunan Indonesia di negri Belanda, justru di jantung negeri penjajah sendiri. Sebelumnya nama yang disebut untuk Indonesia adalah Netherlands Indie (Hindia Belanda), tanah jajahan Belanda, Insulinde oleh kolonial Belanda dan penduduknya disebut Inlander (pribumi). Sedang orang Indonesia berbagai nama tetapi nama Nusantara lah yang paling menonjol. Nama ini pertama kali diperkenalkan oleh Ki Hajar Dewantara.
Penetapan “Indonesia” menjadi tanda penunjuk tanah air bukanlah suatu perbuatan khayalan yang lahir secara tiba-tiba. Penggantian nama ini merupakan garis kelanjutan dari gerakan kebangsaan yang dipelopori Budi Utomo tahun 1908. Aktivitas itu dibawa oleh orang Indonesia yang meneruskan pendidikan ke negri Belanda. Dengan melanjutkan tradisi kekeluargaan didirikanlah Indische Vereniging (Perhimpunan Hindia) yang bertujuan menjadi tempat pertemuan orang-orang Indonesia di negeri Belanda.
Mengalirnya orang-orang Indonesia ke negeri Belanda dengan berbagai kepentingan serta tujuan (meneruskan pendidikan, menjalani hukuman dan kepentingan lainnya) telah membawa perubahan Indische Vereniging. Pertemuan-pertemuan yang dilakukan bukan lagi membicarakan hal yang bersifat sosial saja, tetapi telah beralih ke dalam pembicaraan politik. Pertemuan dan pembicaraan yang terus berlangsung menumbuhkan rasa persatuan dan mengikat kehendak bersama untuk mencapai tujuan. Proses penyatuan itu dipercepat lagi oleh pemikiran-pemikiran kemanusiaan serta seruan-seruan tentang hak asasi manusia dan ditambah lagi oleh tuntutan kemerdekaan pemuda-pemudi Asia dan Afrika yang juga tanah airnya terjajah. Kesemua itu telah menjadi bahan renungan bagi pemuka-pemuka Indische Vereniging dan berusaha mencari jawabannya.
Bersandar pada keinsyapan yang dalam telah memberi keyakinan bahwa kemerdekaannya, maka pemuka-pemuka Indische Vereniging bersepakat untuk menentukan nama Tanah Air sebagai pengganti Hindia Belanda. Dan dengan petunjuk JR. Logan dan A. Bastian ditetapkanlah Indonesia menjadi nama Tanah Air.
Istilah Indonesia pertama kali diperkenalkan oleh JR. Logan dalam tulisannya yang berjudul, “The Ethnology of Indian Archipelago” dimuat dalam Journal of India and Eastern. Menurut JR. Logan, istilah Indonesia sama artinya dengan pulau-pulau atau kepulauan Hindia, penduduknya adalah bangsa Indonesia. Pada tahun 1884 A.Bastian memakai kata Indonesia dalam judul bukunya Indonesien order die Inslen des malayische Aechipels, yang dimaksudkan adalah kepulauan Melayu (Hindia) seperti yang telah disebut JR. Logan tahun 1850. Semenjak itu istilah Indonesia banyak dipakai dalam ilmu ethnologi, hukum adat, dan ilmu bahasa. Dalam hal ini para guru besar Universitas Leiden menyebar luaskan istilah Indonesia Indonesier, Indonesisch.
Perubahan nama menjadi Indonesia menimbulkan perselisihan pendapat antara Muhammad Hatta dengan Douwes Dekker pada tahun 1923 di Negara Belanda. Menurut Douwes Dekker nama Indonesia kurang tepat karena primitif. Karena itu iya mengusulkan agar namanya menjadi Insulinde. Sedangkan Muhammad Hatta mempertahankan pendiriannya dengan alasan, dipakai Hindia Belanda berarti tanah jajahan Belanda dan kalu diambil Hindia saja ini sama dengan negeri India dan itu jajahan Inggris. Karena itu Hatta mempertahankan Indonesia.
Kata Indonesia menjadi nama Ibu Pertiwi dan sebagai pengenal bangsa, telah mendapat sambutan yang luas terutama di kalangan Pemuda. Menyambut hal tersenut Jakarta sebagai pusat pemuda-pemuda telah berperan bersama pemuda Bandung untuk mengukuhkan nama Indonesia sebagai alat pemersatu.
Pemakaian “Indonesia” oleh organisasi pemuda diabadikan dalam Sumpah Pemuda II tahun 1928. Kata Indonesia merubuhkan tembok-tembok organisasi daerah, sehingga menjadi tanah air Indonesia, bangsa Indonesia dan bahasa Indonesia.

MAKNA SUMPAH PEMUDA BAGI JOKOWI

JAKARTA, KOMPAS.com - Sumpah Pemuda yang jatuh pada 28 Oktober punya arti, makna dan pemahaman yang berbeda badi masing-masing individu, termasuk bagi Gubernur DKI Jakarta, Joko Widodo.
Baginya pemuda adalah sosok yang harus memberi inspirasi sebagaimana terjadinya ikrar sumpah pemuda pada tahun 1928. "Seharusnya pemuda menginspirasi kemajuan kota dan negara, saat itu 28 Oktober yang lalu, pemuda menginspirasi menuju Indonesia merdeka, sekarang pun sama," kata Jokowi saat berada di atas panggung acara musik Inbox di Monas, Jakarta, Minggu (28/10/2012).
Gubernur ke-17 yang memimpin ibukota ini juga mengimbau untuk tetap membina persatuan. Ia juga menyampaikan imbauannya pada seluruh pemuda ibu kota, khususnya para pelajar untuk tidak lagi melakukan perkelahian antar pelajar.
"Jangan tawuran lah, enggak boleh tawuran lagi. Semuanya satu bangsa dan negara. Ini harusnya pemuda, dari Sabang sampai Merauke jaga persatuan kita, harus sadar satu Bangsa dan Negara, enggak ada lagi tawuran-tawuran," tegasnya.
Di sisi lain ia tetap bangga dengan pemuda kini yang ia yakini penuh dengan semangat. "Ya saya bangga pemuda sekarang punya spirit, semangat. Ya sama-sama memajukan bangsa dan negara," tutupnya.

APA ARTI SUMPAH PEMUDA BAGI DIRIKU
Oleh Ny. Sujatin Kartowijono

Agak lama saya mempertimbangkan, apakah ada guna dan manfaatnya bila saya ungkapkan perasaan dan pengalaman saya sekitar terjadinya tercetusnya “Sumpah Pemuda” pada tanggal 28 Oktober 1928 di Jakarta. Sebab pada saat itu saya diam di Yogyakarta dan hany membaca berita itu dari surat-surat yang saya terima dari kawan-kawan di Jakarta. Tetapi setelah saya pertimbangkan pengaruhnya yang besar, baik pada diri pribadi saya mapun pada angkatan muda umumnya di luar Jakarta, saya kira ada manfaatnya untuk diketahui oleh Generasi sekarang.
Sebagai seorang sisiwa, saya sejak disekolah menengah masuk perkumpulan “Jong Java” dan menjadi anggota pengurus cabang Jong Java bersama dengan alm. Sdr. Yusupadi. Kongres Pemuda di Jakarta pada tahun 1926 yang mulai membicarakan Semangat Satu Negara Satu Bahasa dan Satu Tanah Air telah saya ketahui lewat kawan-kawan, lagu Indonesia Raya pun mulai saya kenal. Dari surat-surat kawan-kawan di Jakarta saya ketahui tentang niat untuk mengikrarkan semacam Sumpah pada akhir Oktober 1928. Maka saya bersama-sama kawan di Yogyakarta menunggu dengan hati yang berdebar-debar peristiwa yang sangat penting itu. Kami memanjatkan do’a kepada Tuhan Yang Maha Tahu, supaya melindungi pemuda-pemuda di Jakarta sebab kami khawatir juga Pemerintahan Belanda akan menghalang-halanginya. Pengalaman saya dalam rapat-rapat umum Pemimpin-pemimpin nasional seperti alm. Bung Karno, alm. Ki Hajar Dewantara dan lain-lain selalu mendapat tegoran dari pihak polisi Belanda, bahkan adakalanya rapat dibubarkan jika pembicara-pembicara menyinggung soal Indonesia Raya dan sebagainya.
Dapat dibayangkan betapa berdebar-debar hati saya dan kawan-kawan ketika “Sumpah Pemuda” telah dicetuskan dan kami bersama Angkatan Muda semua mempunyai bendera Merah Putih dalam buku kami, lagu Indonesia Raya pun mulai di kalangan pemuda dinyanyikan.
Pada tahun 1928 saya sudah masuk perkumpulan Wanito Utomo dan menjadi anggota pengurus juga, ketuanya adalah Ibu Soekonto, juga saya menjadi ketua dari perkumpulan guru wanita yang bernama Putri Indonesia. Setelah Sum[ah Pemuda di dengungkan maka kami merasa pula bahwa kaum wanita harus dibangkitkan dari keadaan yang masih agak pasif dan diberi semangat nasional. Maka pada suatu waktu oleh organisasi Putri Indonesia diputuskan, supaya mengadakan suatu pertemuan antara kaum wanita. Gagasan ini saya bawa kepada beberapa pemimpin alm. Ki Hajar dan Nyi Hajar Dewantoro, Dr. Soekiman, ibu Sokonto dan lain-lain. Ki Hajar dan Nyi Hajar Dewantoro sangat menyetujui gagasan itu dan memberikan bantuan besar dalam Pelaksanaannya. Ibu Sokonto bersedia menjadi ketua panitia pertemuan itu, Dr. Soekiman memberi bantuan moral yang besar maka dibentuklah Panitia Kongres Pertemuan Indonesia yang meliputi perkumpulan-perkumpulan wanita di Yogyakarta dan mengadakan Kongresnya tanggal 22 Desember 1928 jadi ± 2 bulan setelah Sumpah Pemuda.
Dalam kongres itu untuk pertama kali dikibarkan secara resmi Sang Merah Putih diiringi lagu Kebangsaan Indonesia Raya. Juga bahasa Indonesia dipergunakan dalam sambutan dan uraian. Ki Hajar Dewantara menyatakan bahwa kongres itu merupakan “Tonggak dalam Sejarah Nasional Pergerakan Wanita”.

MAKNA BARU SUMPAH PEMUDA
Oleh Puti Guntur Soekarno

Segala yang terjadi dalam hidup kita saat ini memberikan petunjuk bahwa tekad tentang tanah air, bangsa, dan bahasa yang satu memerlukan makna baru atas situasi yang kita hadapi. Sejarah layak menjadi penerang masa depan, tetapi tidak untuk membebani kita dengan masa lalu.
Merayakannya dengan sekadar mengangkat simbol masa lalu dan menempatkannya sebagai kritisisme atas kehidupan masa kini hanya akan menempatkan kita pada bayangan romantisisme sejarah berhadapan dengan realitas kekinian yang memiliki tantangan lebih besar dan kompleks.


Referensi :
2.      R.Z. Leirissa, S. Sutjianingsih, G.A. Ohorela, Suryo Haryono, Muchtarudin Ibrahim, sejarah pemikiran tentang sumpah pemuda, Jakarta, 1989, hal.
4.      bunga rampai soempah pemoeda/ dihimpun oleh yayasan gedung-gedung bersejarah Jakarta. – Jakarta : Balai Pustaka, 1986, hal. 68.
7.      http://organisasi.org
8.      Makna sumpah pemuda




Oleh: Nurul Yuliana
Usaha Jasa Pariwisata 2012


Tidak ada komentar:

Poskan Komentar