Rabu, 26 Desember 2012

Perang Aceh





PERLAWANAN ACEH 1873 - 1904

              Kerajaan Aceh memiliki kedudukan yang sangat terkenal sebagai pusat perdagangan . Aceh banyak sekali menghasilkan lada , tambang serta hasil hutan , sehingga Belanda ingin menduduki kerajaaan Aceh serta menguasainya . orang-orang Aceh tetap ingin mempertahankan kedaulatannya walaupun Belanda ingin menguasai . Tahun 1871 , Aceh masih sebagai kerajaan yang merdeka tetapi mulai berubah dengan adanya Traktrat Sumatra ( yang ditandatangani Inggris dengan Belanda pada tanggal 2 November 1871 ) . Isi dari Traktrat Sumatra 1871 itu adalah pemberian kebebasan bagi Belanda untuk memperluas daerah kekuasaan di Sumatra , termasuk Aceh . Dengan demikian , Traktrat Sumatra 1871 merupakan ancaman untuk Aceh . Karena itu Aceh berusaha untuk memperkuat diri , mengadakan hubungan dengan Turki , Konsul Italia , bahkan dengan Konsul Amerika Serikat di Singapura . Tindakan Aceh ini sangat mengkhawatirkan pihak Belanda karena Belanda tidak ingin adanya campur tangan dari luar . Belanda memberikan ultimatum, namun Aceh tidak menghiraukannya . Pada tanggal 26 Maret 1873 , Belanda melakukan  perang kepada Aceh .  Perang Aceh  adalah perang Kesultanan Aceh melawan Belanda dimulai pada Tahun 1873 hingga 1904 . Kesultanan Aceh menyerah pada Tahun 1904 , tetapi  perlawanan rakyat Aceh dengan perang gerilya terus berlanjut . Pada tanggal 26 Maret1873 Belanda melakukan perang kepada Aceh , dan mulai menggunakan tembakan meriam ke daratan Aceh dari kapal perang Citadel van Antwerpen . Pada tanggal 8 April 1873 , Belanda mendarat di Pantai Ceureumen di bawah pimpinan Johan Harmen Rudolf Köhler , dan Masjid Raya Baiturrahman dikuasainya . Jendral Köhler saat itu membawa 3.198 tentara . Sebanyak 168 di antaranya para perwira . Perang Aceh Pertama (1873 - 1874) dipimpin oleh Panglima Polim dan Sultan Mahmud Syah melawan Belanda yang dipimpin Jendral Köhler . Jendral Köhler dengan 3000 serdadunya akhirnya terbunuh   , dimana Jendral Köhler sendiri tewas pada tanggal 14 April1873 . Sepuluh hari kemudian , perang terjadi di mana-mana perang yang paling besar saat merebut kembali Masjid Raya Baiturrahman , yang dibantu oleh beberapa kelompok pasukan . Ada di Peukan Aceh , Lambhuk , Lampu'uk , Peukan Bada , sampai Lambada , Krueng Raya . Beberapa ribu orang juga berdatangan dari Teunom , Pidie , Peusangan , dan beberapa wilayah lainnya .
Pada Perang Aceh Kedua ( 1874-1880 ) di bawah pimpinan Jendral Jan van Swieten ,  Belanda berhasil menduduki Keraton Sultan Pada tanggal 26 Januari 1874 dan dijadikan sebagai pusat pertahanan Belanda Pada tanggal 31 Januari 1874 Jenderal Van Swieten mengumumkan bahwa seluruh Aceh jadi bagian dari Kerajaan Belanda . Ketika Sultan Machmud Syah wafat pada tanggal 26 Januari 1874 dan digantikan oleh Tuanku Muhammad Dawood yang dinobatkan sebagai Sultan di masjid Indragiri .  Perang yang pertama dan Perang yang kedua adalah perang total dan frontal dimana pemerintah masih berjalan mapan , meskipun ibu kota negara berpindah - pindah ke Keumala , Dalam indrapuri  dan tempat - tempat lain Perang ketiga (1881-1896), perang dilanjutkan secara gerilya dan dikobarkan perang fi sabilillah . Dimana sistem perang gerilya ini dilangsungkan sampai tahun 1904 . Dalamperang gerilya ini pasukan Aceh di bawah Teuku Umar bersama Panglima Polim dan Sultan . Pada tahun 1899 ketika terjadi serangan mendadak  dari pihak Van der Dussen di Meulaboh ,Teuku Umar akhirnya gugur . Tetapi Cut Nyak  Dien istri Teuku Umar kemudian tampil menjadi komandan perang gerilya . Perang keempat pada tahun ( 1896-1910 ) adalah perang gerilya kelompok dan perorangan dengan perlawanan , penyerbuan, penghadangan dan pembunuhan tanpa komando dari pusat pemerintahan Kesultanan



 




Sebab-sebab terjadinya Perang Aceh
·         Belanda menduduki daerah Siak Akibat dari Perjanjian Siak pada Tahun 1858 . Di mana Sultan Ismail menyerahkan daerah Deli , Langkat , Asahan dan Serdang kepada Belanda padahal daerah-daerah itu sejak Sultan Iskandar Muda berada di bawah kekuasaan Aceh .
·         Belanda melanggar perjanjian Siak , maka berakhirlah perjanjian London tahun 1824.Isi perjanjian London adalah Belanda dan Britania Raya membuat ketentuan tentang batas-batas kekuasaan kedua daerah di Asia Tenggara yaitu dengan garis lintang Singapura. Keduanya mengakui kedaulatan Aceh .
·         Aceh menuduh Belanda tidak menepati janjinya, sehingga kapal-kapalBelanda yang lewat perairan Aceh ditenggelamkan oleh pasukan Aceh , Perbuatan Aceh ini didukung Britania.
·         DibukanyaTerusan Suezoleh Ferdinand de Lesseps . Menyebabkan perairan Aceh menjadi sangat penting dalam lalu lintas perdagangan .
·         Ditandatanganinya Perjanjian London 1871 antara Inggris dan Belanda yang isinya, Britania memberikan kekuasaan kepada Belanda untuk mengambil tindakan di Aceh . Belanda harus menjaga keamanan lalu lintas di Selat Malaka . Belanda mengizinkan Britania bebas berdagang di Siak dan  menyerahkan daerahnya di  Guyana Barat kepada Britania.  
·         Akibat perjanjian Sumatera 1871, Aceh mengadakan hubungan diplomatik dengan Konsul Amerika Serikat , Kerajaan Italia , Kesultanan Usmaniyah di singapura dan mengirimkan utusan ke Turki Usmani pada tahun 1871.   
·         Akibat hubungan diplomatik Aceh dengan Konsul Amerika, Italia danTurki di Singapura, Belanda menjadikan itu sebagai alasan untuk menyerang Aceh. Wakil Presiden Dewan Hindia Frederik Nicolas Nieuwen huijzen dengan 2 kapal perangnya datang ke Aceh dan meminta keterangan dari Sultan Machmud Syah tentang apa yang sudah dibicarakan di Singapura itu , tetapi Sultan Machmud menolak untuk memberikan keterangan .

Sifat perlawanan Aceh ini ada dua macam yaitu politik dan keagamaan :
1.      Perlawanan politik yang bertujuan untuk mempertahankan kedaulatan Aceh , Perlawanan politik dipimpin oleh para bangsawan yang bergelar Teuku . Tokoh-tokoh bangsawan itu  antara lain Teuku Umar dan isterinya bernama Cut Nyak Dien , Panglima Polim , Sultan Dawutsyah , Teuku Imam Lueng Batta .
2.      Perlawanan juga bersifat keagamaan yaitu menolak kedatangan Belanda yang akan menyebarkan agama kristen di Aceh. Tokoh keagamaan adalah para ulama yang bergelar Teungku contoh Teungku Cik di Tiro. Golongan ulama tidak mudah menyerah dan kompromi terhadap Belanda.

Jalan perang
  • Pada bulan April tahun 1873 pasukan Belanda dipimpin oleh Mayor Jendral Kohler menyerang Aceh namun gagal bahkan Jendral Kohler tewas dalam pertempuran memperebutkan masjid Raya Baiturahman .
  • Pada bulan Desember 1873 pasukan Belanda dipimpin oleh Letnan Jendral Van Swieten dapat menduduki istana serta memproklamirkan bahwa kerajaan Aceh sudah takluk . Nama Banda Aceh kemudian diganti kota raja . Aceh belum benar-benar  takluk kepada Belanda . Raja Aceh yaitu Sultan Mahmudsyah wafat karena sakit . Putranya yang bernama Muhammad Dawot syah menjalankan pemerintahan di Pagar Aye . Rakyat Aceh tetap melanjutkan perlawanan dipimpin oleh Panglima Polim.
  • Langkah berikutnya Pada tahun 1884 Belanda mempertahankan kekuasaan hanya di daerah yang didudukinya saja . dan dibentuk pemerintahan sipil . Sistem ini disebut Konsentrasi Stelsel.
Perang pun dilanjutkan secara gerilya dan dikobarkan dengan perang fi'sabilillah . Sekitar tahun 1875 , Teuku Umar melakukan gerakan dengan mendekati Belanda dan hubungannya dengan orang Belanda semakin kuat . Pada tanggal 30 September 1893 , Teuku Umar dan pasukannya yang berjumlah 250 orang pergi ke Kutaraja dan " menyerahkan diri " kepada Belanda . Belanda sangat senang karena musuh nya  mau membantu mereka , sehingga mereka memberikan Teuku Umar gelar Teuku Umar Johan Pahlawan dan menjadikannya komandan unit pasukan Belanda dengan kekuasaan penuh . Teuku Umar merahasiakan rencana untuk menipu Belanda , meskipun ia dituduh sebagai penghianat oleh bangsa Aceh . Bahkan , Cut Nyak Meutia datang menemui Cut Nyak Dhien dan memakinya . Cut Nyak Dien berusaha menasehatinya untuk kembali melawan Belanda . Namun , Teuku Umar masih terus berhubungan dengan Belanda.  Teuku Umar lalu mencoba untuk mempelajari taktik Belanda , sementara pelan-pelan mengganti sebanyak mungkin orang Belanda di unit yang ia kuasai . Ketika jumlah orang Aceh dan pasukan tersebut cukup banyak , Teuku Umar melakukan rencana palsu pada orang Belanda dan  ia ingin menyerang bangsa Aceh.
Teuku Umar dan Cut Nyak Dhien pergi dengan semua pasukan dan perlengkapan berat , senjata, dan amunisi Belanda ,  lalu tidak pernah kembali. Penghianatan ini disebut Het verraad van Teukoe Oemar ( pengkhianatan Teuku Umar) . Teuku Umar yang mengkhianati Belanda menyebabkan Belanda marah dan melancarkan operasi besar-besaran untuk menangkap Cut Nyak Dhien dan Teuku Umar . Namun, gerilyawan kini dilengkapi perlengkapan dari Belanda . Mereka mulai menyerang Belanda sementara Jendral Van Swieten diganti . Penggantinya Jendral Jakobus Ludovicius Hubertus Pel  , Jendral Jakobus pun dengan cepat terbunuh dan pasukan Belanda berada pada kekacauan . Belanda lalu mencabut gelar Teuku Umar dan membakar rumahnya , dan juga mengejar keberadaan Teuku Umar .
Cut Nyak Dien dan Teuku Umar terus menekan Belanda , lalu menyerang Banda Aceh ( Kutaraja ) dan Meulaboh ( bekas basis Teuku Umar ) , sehingga Belanda terus-terusan mengganti jendral yang bertugas . Unit " Maréchaussée " lalu dikirim ke Aceh . Mereka dianggap biadab dan sangat sulit ditaklukan oleh orang Aceh . Selain itu banyak pasukan " De Marsose " merupakan orang Tionghoa - Ambon yang menghancurkan semua yang ada di jalannya . Akibat dari hal ini, pasukan Belanda merasa simpati kepada orang Aceh dan Van der Heyden membubarkan unit "De Marsose".Peristiwa ini juga menyebabkan kesuksesan jendral selanjutnya karena banyak orang yang tidak ikut melakukan jihad kehilangan nyawa mereka, dan ketakutan masih tetap ada pada penduduk Aceh .  Jendral Joannes Benedictus van Heutsz memanfaatkan ketakutan ini dan mulai menyewa orang Aceh untuk memata-matai pasukan pemberontak sebagai informan sehingga Belanda menemukan rencana Teuku Umar untuk menyerang Meulaboh pada tanggal 11 Februari 1899. Akhirnya, Teuku Umar gugur tertembak peluru. Ketika Cut Gambang, anak Cut Nyak Dhien, menangis karena kematian ayahnya, ia ditampar oleh ibunya lalu memeluknya dan berkata:
       “ Sebagai perempuan Aceh , kita tidak boleh menangisi orang yang sudah meninggal ”
Cut Nyak Dien lalu memimpin perlawanan melawan Belanda di daerah pedalaman Meulaboh bersama pasukan kecilnya dan mencoba melupakan suaminya . Pasukan ini terus bertempur sampai kehancurannya pada tahun 1901 karena tentara Belanda sudah terbiasa berperang di medan daerah Aceh . Cut Nyak Dien terus bertambah umur semakin tua . Matanya sudah mulai rabun , dan ia terkena penyakit encok dan juga jumlah pasukannya terus berkurang, serta sulitnya memperoleh makanan . Hal ini membuat iba para pasukan-pasukannya . Anak buah Cut Nyak Dhien yang bernama Pang Laot melaporkan lokasi markasnya kepada Belanda karena Iba . Akibatnya, Belanda menyerang markas Cut Nyak Dien di Beutong Le Sageu . Mereka terkejut dan bertempur mati-matian , Cut Nyak Dhien ditangkap dan dibawa ke Banda Aceh . Cut Nyak Dhien dipindahkan ke Sumedang berdasari orang terakhir yang melindungi Cut Nyak Dien sampai kematiannya . Namun, Cut Nyak Dhien memiliki penyakit rabun, sehingga ia tertangkap . Cut Nyak Dien berusaha mengambil rencong dan mencoba untuk melawan musuh . akhirnya   aksi Cut Nyak Dhien berhasil dihentikan oleh Belanda .

Belanda menyatakan perang terhadap Aceh pada tanggal 26 Maret 1873 setelah melakukan beberapa ancaman diplomatic , dengan 3.000 serdadu yang dipimpin Mayor Jenderal Köhler dikirimkan pada tahun 1874 namun dikalahkan tentara Aceh di bawah pimpinan Panglima Polem dan Sultan Machmud Syah yang telah memodernisasikan senjatanya. Köhler sendiri berhasil dibunuh pada tanggal10 April 1873Ekspedisi kedua di bawah pimpinan Jenderal van Swieten berhasilmerebut istana sultan. Ketika Sultan Machmud Syah wafat 26 Januari 1874 digantikan oleh Tuan ku Muhammad Dawot yg di nobatkan sebagai Sultan dimasjid Indragiri. Pada 13 Oktober 1880 pemerintah kolonial menyatakan bahwa perang telah berakhir . Bagaimanapun perang dilanjutkan secara gerilya danperang fisabilillah dikobarkan di mana sistem perang gerilya ini dilangsungkan sampai tahun 1904 . Pada masa perang dgn Belanda Kesultanan Aceh sempat meminta bantuankepada perwakilan Amerika Serikat di Singapura yg disinggahi Panglima Tibang Muhammad dalam perjalanan menuju Pelantikan Kaisar Napoleon III di Perancis.Aceh juga mengirim Habib Abdurrahman untuk meminta bantuan kepada Kekaisaran Ottoman . Namun Kekaisaran Ottoman kala itu sudah mengalami masa kemunduran . Sedangkan Amerika menolak campur tangan dalam urusan Aceh dan Belanda . Perang kembali berkobar pada tahun 1883 Pasukan Belanda berusaha membebaskan para pelaut Britania yang sedang ditawan di salah satu wilayah kekuasaan Kesultanan Aceh dan menyerang kawasan tersebut . Sultan Aceh menyerahkan para tawanan dan menerima bayaran yang cukup besar sebagai gantinya . Sementara itu Menteri Perang Belanda Weitzel kembali menyatakan perang terbuka melawan Aceh . Belanda kali ini meminta bantuan para pemimpin .














Referensi dari Buku :
1)
Nama Pengarang        : Nthony Reid
Judul                            : Asal Mula Konflik Aceh
Kota                             : Jakarta
Penerbit                      : Yayasan Obor Indonesia                  
Tahun                          : 2005
Hal                               : 372

2)
Nama Pengarang        : Denys Lombard
Judul                           : Kerajaan Aceh Zaman Sultan Iskandar Muda
Kota                             :  Jakarta
Penerbit                      : Kepustakaan Populer Gramedia
Tahun                          : 2006
Hal                               : 408
3)
Nama Pengarang        : Paul Van T’VEER
Judul                            : Perang Aceh ( Khas kegagalan Snouck Hurgronje )
Kota                             : Jakarta
Penerbit                      : PT. Garafiti Pers
Tahun                          : Jakarta
Hal                               : 270

Referensi dari Web
http://www.sejarahnusantara.com/sejarah-aceh/sejarah-perang-aceh-melawan-belanda-1873-1904-10038.htm

Nama : Arta Damaiyani
Pariwisata Angkatan 2012

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar