Rabu, 02 Januari 2013

(UAS) Kain Panjang Grinsing


Kain Panjang Grinsing (UAS)
Muhammad Fiqih Zidni
Kain gringsing adalah satu-satunya kain tenun tradisional Indonesia yang dibuat menggunakan teknik teknik dobel ikat dan memerlukan waktu 2-5 tahun. Kain ini berasal dari Desa TengananBali. Umumnya, masyarakat Tenganan memiliki kain gringsing berusia ratusan tahun yang digunakan dalam upacara khusus. Kata gringsing berasal dari gring yang berarti 'sakit' dan sing yang berarti 'tidak', sehingga bila digabungkan menjadi 'tidak sakit'. Maksud yang terkandung di dalam kata tersebut adalah seperti penolak bala. Di Bali, berbagai upacara, seperti upacara potong gigi, pernikahan, dan upacara keagamaan lain, dilakukan dengan bersandar pada kekuatan kain gringsing.
Sejarah
Berdasarkan mitos, adanya kain tenun gringsing berawal dari Dewa Indra, pelindung dan guru kehidupan bagi masyarakat Tenganan. Dewa Indra kagum dengan keindahan langit di malam hari dan dia memaparkan keindahan tersebut melalui motif tenunan kepada rakyat pilihannya, yaitu rakyat Tenganan. Dewa itu mengajarkan para wanita untuk menguasai teknik menenun kain gringsing yang melukiskan dan mengabadikan keindahan bintangbulanmatahari, dan hamparan langit lainnya. Kain tenun yang berwarna gelap alammi digunakan masyarakat Tenganan dalam ritual keagamaan atau adat dan dipercaya memiliki kekuatan magis. Kain ini juga disebut-sebut merupakan alat yang mampu menyembuhkan penyakit dan menangkal pengaruh buruk. Pakar tekstil menyataan bahwa teknik penenunan kain gringsing ini hanya dijumpai di tiga lokasi di dunia, yaitu Tenganan (Indonesia), Jepang, dan India.
Pada tahun 1984, Urs Ramseyer (1984) dalam tulisannya yang berjudul Clothing, Ritual and Society in Tenganan Pegeringsingan Bali, menyatakan dugaan bahwa masyarakat Tenganan sebagai sesama penganut Dewa Indra merupakan imigran dari India kuno. Imigran tersebut kemungkinan membawa teknik dobel ikat melalui pelayaran dari Orrisa atau Andhra Pradesh dan mengembangkan teknik tersebut secara independen di Tenganan. Kemungkinan lain adalah para imigran menguraikan kutipan-kutipan dari beberapa jenis tenun patola untuk dikembangkan di Indonesia.[4]
                                                           
 Tata Upacara Pembuatan Tenun Grinsing

Masyarakat Tenganan Pegeringsingan yang menganut agama Hindu sangat percaya bahwa segala sesuatu pekerjaan yang dimulai dengan diawali upacara keagamaan maka hasilnya akan balk dan menjumpai kesalamatan. Dalam memulai pekerjaan menenun Kain Geringsing yang sangat dikematkan inipun mereka sangat memperhatikan aturan yang sudah diwariskan secara turun-temurun oleh leluhurnya. Mereka mengikuti aturan tersebut meskipun secara teknik ilmiah mereka kurang bisa menjelaskan narnun mereka tetap berusaha menaruh perhatian yang besar terhadap pelestarian yang sangat erat kaitannya dengan upacara keagamaan yang harus dilaksanakan demi mempertahankan keaslian tata cara pembuatan kain tenun tradisional Geringsing, satu-satunya yang ada di Bali.
Pantangan bagi masyarakat Tenganan Pegeringsingan untuk menenun kain Gringsing pada saat datang bulan (haid). Mengenai upacara keagamaan dilakukan secara bertahap selama proses pembuatan tenun tradisional Geringsing berlangsung.
Rentetannya adalah sebagai berikut : setelah proses pembuatan dimulai, diawali dengan mencelupkan benang kedalam minyak lilin (minyak kemiri/malem) dan air serbuk kayu dalam wadah yang terbuat dan tanah hat (jeding) kemudian ditutup dengan kain putih hitam (gotia) guna menghindan adanya pengaruh roh jahat (leak).
Setelah ikatan pertama disimpulkan disertai dengan yadnya kecil yang terdiri dan : kembang sepatu, dauh sirih gulung, kapur sirih dan 2 set uang kepeng 11, pada lubangnya digantungkan benang katun yang diikat 2 kendi. Ikatan terakhir pada bahan hanya dapat diikat oleh wanita yang lewat masa menapouse.

Proses dan Teknik Pembuatan
http://bits.wikimedia.org/static-1.21wmf4/skins/common/images/magnify-clip.png
Buah kemiri yang sudah matang dan jatuh ke tanah untuk pembuatan kain gringsing.
 
Proses pembuatan kain gringsing dari awal hingga akhir dikerjakan dengan tangan. Benang yang digunakan merupakan hasil pintalan tangan dengan alat pintal tradisional, bukan mesin. Benang tersebut diperoleh dari kapuk berbiji satu yang didatangkan dariNusa Penida karena hanya di tempat tersebut bisa didapatkan kapuk berbiji satu. Setelah selesai dipintal, benang akan mengalami proses perendaman dalam minyak kemiri sebelum dilanjutkan ke proses ikat dan pewarnaan. Perendaman tersebut bisa berlangsung lebih dari 40 hari hingga maksimum satu tahun dengan penggantian air rendaman setiap 25-49 hari. Semakin lama perendaman, benang akan makin kuat dan lebih lembut.
Buah kemiri (Aleurites moluccana) diambil langsung di hutan Tenganan dan pembuat kain gringsing harus menggunakan kemiri yang benar-benar matang, serta jatuh dari pohonnya. Hal ini sesuai dengan awig-awig (aturan adat) yang menyatakan bahwa beberapa jenis pohon tertentu (kemiri, keluak, tehep, dan durian) yang tumbuh di atas tanah milik individu tidak boleh dipetik oleh pemiliknya, melainkan hatus dibiarkan matang di pohon dan kemudian jatuh.[5]
Benang akan dipintal menjadi sehelai kain yang memiliki panjang (sisi pakan) dan lebar (sisi lungsi) tertentu. Untuk merapatkan hasil tenunan, benang akan didorong menggunakan tulang kelelawar. Kain yang sudah jadi akan diikat oleh juru ikat mengikuti pola tertentu yang sudah ditentukan. Proses pengikatan menggunakan dua warna tali rafia, yaitu jambon dan hijau muda. Setiap ikatan akan dibuka sesuai proses pencelupan warna untuk menghasilkan motif dan pewarnaan yang sesuai.
Proses penataan benang, pengikatan, dan pewarnaan dilakukan pada sisi lungsi dan pakan, sehingga teknik tersebut disebut dobel ikat. Pada teknik tenun ikat biasa, umumnya hanya sisi pakan yang diberi motif, sedangkan sisi lungsi hanya berupa benang polos, atau sebaliknya. Pola yang dibuat pada kain harus ditenun dengan ketrampilan dan ketelitian sehingga setiap warna pada lungsi akan bertemu dengan warna yang sama pada pakan dan menghasilkan motif kain yang terlihat tegas.
Pewarna
Motif kain gringsing hanya menggunakan tiga warna yang disebut tridatu. Pewarna alami yang digunakan dalam pembuatan motif kain gringsing adalah 'babakan' (kelopak pohon) Kepundung putih (Baccaurea racemosa) yang dicampur dengan kulit akar mengkudu(Morinda citrifolia) sebagai warna merah, minyak buah kemiri berusia tua (± 1 tahun) yang dicampur dengan air serbuk/abu kayu sebagai warna kuning, dan pohon Taum untuk warna hitam
Motif
Konon, dulunya jenis tenun gringsing berjumlah sekitar 20 jenis. Namun, hingga tahun 2010, yang masih dikerjakan hanya ± 14 jenis, beberapa di antaranya adalah:
·         Lubeng, dicirikan dengan kalajengking dan berfungsi sebagai busana adat dan digunakan dalam upacara keagamaan. Ada beberapa macam motif Lubeng, yaitu Lubeng Luhur yang berukuran paling panjang (tiga bunga berbentuk kalajengkin yang masih utuh), Lubeng Petang Dasa (satu bunga kalajengking utuh di tengah dan di pinggir hanya setengah), dan Lubeng Pat Likur (ukurannya terkecil).
·         Sanan Empeg, dicirikan dengan tiga bentuk kotak-kotak/poleng berwarna merah-hitam. Fungsi kain gringsing bermotif ini adalah sebagai sarana upacara keagamaan dan adat, yaitu sebagai pelengkap sesajian bagi masyarakat Tenganan Pegeringsingan. Bagi masyarakat Bali di luar desa Tenganan, kain ini digunakan sebagai penutup bantal/alas kepala orang melaksanakan upacara manusa yadnya potong gigi.
·         Cecempakaan, dicirikan dengan bunga cempaka dan berfungsi sebagai busana adat dan upacara keagamaan. Jenis-jenis Gringsing Cecempakaan adalah Cecempakaan Petang Dasa (ukuran empat puluh), Cecempakaan Putri, dan Geringsing Cecempakaan Pat Likur (ukuran 24 benang).
·         Cemplong, dicirikan dengan bunga besar di antara bunga-bunga kecil sehingga terlihat ada kekosongan antara bunga yang menjadi cemplong. Gringsing cemplong juga berfungsi sebagai busana adat dan upacara agama. Jenis-jenisnya terdiri dari ukuran Pat Likur (24 benang), senteng/anteng (busana di pinggang wanita), dan ukuran Petang Dasa (40 benang) yang sudah hampir punah.
·         Gringsing Isi, motifnya semua berisi atau penuh, tidak ada bagian kain yang kosong. Motif ini berfungsi hanya untuk sarana upacara dan kuran yang ada hanya ukuran Pat Likur (24 benang).
·         Wayang, terdiri dari gringsing wayang kebo dan gringsing wayang putri. Motif ini paling sulit dikerjakan dan memerlukan waktu pembuatan hingga 5 tahun. Motif wayang hanya terdiri dari dua warna, yaitu hitam sebagai latar dan garis putih yang relatif halus untuk membentuk sosok wayang. Untuk menciptakan garis putih dengan tersebut diperlukan ketelitian tinggi karena tingkat kesulitan selama pengikatan dan penenunan kain relatif sulit. Wayang kebo memiliki motif wayang lelaki, sedangkan wayang putri hanya berisi motif wayang perempuan.
·         Batun Tuung, yang dicirikan dengan biji terung, Ukurannya tidak besar dan digunakan untuk senteng (selendang) pada wanita dan sabuk (ikat pinggang) tubumuhan pada pria. Motif ini sudah hampir punah.
Motif-motif kuno kain gringsing lainnya yang masih dikenal meliputi: Teteledan, Enjekan Siap, Pepare, Gegonggangan, Sitan Pegat, Dinding Ai, Dinding Sigading, dan Talidandan. Warna dan keunikan desain ikat mulai mengalami perubahan dibandingkan dengan motif kain-kain kuno yang sebagian tersimpan di museum-museum di Eropa, seperti Museum Basel, Swiss. Pada tahun 1972, kelompok peneliti dari Museum Fur Volkerkunde, Basel, membawa foto-foto kain gringsing yang sebagian sudah tidak ditemukan lagi di Desa Tenganan. Foto-foto tersebut dipelajari dan dibuat kembali oleh masyarakat Tenganan untuk melestarikan motif-motif kuno kain gringsing.
Produk kain tenun Bali diatas bisa ditemui di Toko Tenun Indonesia

Kain Grinsing diminati Kolektor Dunia

Liputan6.com, Jakarta:
 Keindahan karya seni para pengrajin Pulau Dewata tidak diragukan lagi. Salah satunya adalah Kain Gringsing, kain tenun ikat ganda yang sangat unik dalam motif dan warna. Dengan sekilas pandang, kualitas kain yang dibuat dengan tangan itu jelas terlihat. Kain ini diburu para kolektor dunia namun kurang dikenal oleh masyarakat Tanah Air. Untuk memperkenalkan kepada masyarakat, Kain Gringsing dipamerkan di Borneo Gallery, Jalan Kemang Utara Raya 58B, Jakarta Selatan, baru-baru ini. 

Kain Gringsing adalah satu-satunya tenun ikat ganda yang dibuat di Indonesia. Kain yang dipergunakan untuk upacara-upacara keagamaan ini melambangkan kesucian dan dipercaya dapat menolak bala. Harga sehelai kain tersebut berkisar antara Rp 500 ribu hingga Rp 20 juta.

Proses pembuatan sehelai kain ikat ganda bisa memakan waktu antara lima hingga 10 tahun. Penenun biasanya memintal sendiri kapas yang akan dijadikan kain. Untuk pewarnaan, mereka menggunakan pewarna dari rumput atau kayu. Warna merah, misalnya, berasal dari akar sunti Nusa Penida. Sedangkan warna kuning berasal dari minyak kemiri. 

Agar warna bisa merasuk ke dalam serat-serat benang melalui proses yang panjang. Warna kuning muncul setelah diproses 37 hari sementara warna merah perlu diproses tiga hari. Keseluruhan pemrosesan--mulai dari mencuci, jemur, dan menyimpan-- membutuhkan waktu tiga bulan. 

Kain Gringsing dibuat para penenun Bali Aga, masyarakat tertua yang tinggal di Desa Tenganan, Karangasem. Tenganan memang kalah pamor dengan Ubud, Kuta, atau Sanur. Tetapi desa yang berpedoman pada awig-awig atau peraturan adat desa itu mempunyai kain Gringsing yang banyak diminati terutama motif Wayang Kebo, Wayang Putri, atau Cempaka.




Referensi
1.     ^ a b c d e Amy Wirabudi. "Terpikat Dobel Ikat: Tenun Gringsing", (EVE MAGAZINE Indonesia), 1 April 2010, hlm. 89.
2.     ^ Esther Mulyanie dan Agus Ginanjar. "Kain Gringsing Bali Aga Diminati Kolektor Dunia ", (Liputan6.com), 21 Maret 2004.
3.     ^ a b Kain Tenun Gringsing Tenganan Karangasem Bali. Komang Sugiarta. 25 Juli 200

1 komentar:

  1. A. Tulisan TIDAK ORIGINAL
    B. Sumber TIDAK DICANTUMKAN
    C. DITOLAK! silakan DIPERBAIKI KEMBALI

    salaam,
    MS Rasyid

    BalasHapus