Rabu, 09 Januari 2013

UTS - Pemberontakan PETA di Blitar 14 February 1945



 Pemberontakan PETA di Blitar 14 February 1945
Refanny Mayta Novilia
4423126877
(Berdasarkan Diorama 31 di Monumen Nasional)

Pada tahun 1942  pasukan Jepang mendarat di pulau Jawa. Jepang ingin menguasai Indonesia juga. Dengan cara menghasut rakyat Indonesia, Jepang berhasil mendapatkan simpati dari rakyat Indonesia.  Akhirnya Jepang melakukan perlawanan terhadap Belanda. Belanda pun kalah dan memilih mundur. Pada tanggal 8 Maret 1942 Belanda menyerah tanpa syarat kepada Jepang yang di wakili oleh Letnan Jendral H. Ter Poorten (Belanda) kepada Letnan Jendral Hitoshi Imamura (Jepang). Sejak saat itu berakhirlah kekuasaan Belanda di Indonesia. Masyarakat Indonesia menyambut Jepang dengan senang  karena telah membebaskan Indonesia dari penjajahan Belanda. Jepang membuat pemerintahan, juga tentara-tentara untuk memperkuat Jepang. Salah satunya Tentara Sukarela Pembela Tanah Air atau PETA.
Tentara Sukarela Pembela Tanah Air (PETA) atau dalam bahasa Jepang bernama kyōdo bōei giyūgun adalah kesatuan militer yang di bentuk oleh Jepang pada masa kependudukannya di Indonesia. Pada awalnnya pemerintah Jepang di Indonesia, membentuk pemerintahan militer di Pulau Jawa yang bersifat sementara. PETA sendiri di bentuk pada tanggal 3 Oktober 1943 di Blitar yang di umumkan oleh Panglima Tentara ke-16, Letnan Jendral Kumakichi Harada. PETA dibuat bukan ide yang berasal dari pemerintahan Jepang, melaikan berasal dari pemerintahan Indonesia. Hal ini dibuktikan dari berita yang dimuat pada koran “Asia Raya” pada tanggal 13 September 1943. Berita tersebut memuat tentang usulan dari sepuluh ulama, yaitu K.H.Mas Manyur, KH. Adnan, Dr. Adnan, Dr. Abdul Karim Amrullah (HAMKA), Guru H.Mansur, Guru H. Colid, K.H. Abdul Madjid, Guru H. Jacob, K.H. Djunaedi, U. Mochtar, dan H. Moh. Sadri, yang menuntut agar segera dibentuk tentara untuk mempertahankan Pulau Jawa. Akhirnya Letnal Jendral Kumakichi Harada, memilih salah seorang nasionalis yang bersimpati terhadap Jepang yaitu Raden Gatot Mangunpraja yang menulis permohonan untuk membangun PETA kepada Gunseikan (Kepala Pemerintahan Militer Jepang). Isi surat permohonan itu adalah permohonan agar bangsa Indonesia diperbolehkan membantu pemerintahan Jepang di medan perang. Surat permohonan itupun dikirim pada tanggal 7 September 1943 lalu di kabulkan dengan di keluarkannya peraturan yang disebut Osamu Seirei No.44 yang dikeluarkan pada tanggal 7 Maret 1942. Undang-undang tersebut kemudian menjadi pokok peraturan-peraturan ketatanegaraan Jepang di Indonesia. Berdasarkan undang-undang yang dibuat itu,  telah dapat disimpulkan bahwa Gubernur Jendral Hindia Belanda telah di hapuskan, kemudian di gantikan dengan Panglima Tentara Jepang. Undang –undang itupun juga mengisyaratkan ialah bahwa pemerintahan pendudukan Jepang berkeinginan untuk terus menggunakan pemerintahan sipil sebagai para pegawainya. Hal ini dimaksudkan supaya pemerintahan mereka tidak berjalan dengan kacau, bisa berjalan dengan lancar. Akan tetapi, pemimpin-pemimpin dari pusat sampai daerah tetap dipegang kekuasaannya oleh tentara Jepang. Koordinator pemerintahan setempat bernama Gunsebu. Tujuan Jepang membentuk organisasi PETA ialah menarik simpati rakyat Indonesia agar rakyat indonesia memberikan bantuan kepada pasukan Jepang dalam perang Asia Timur Raya. Dan tujuan di bentuknya PETA untuk Indonesia ialah membangkitkan semangat juang para pemuda-pemuda Indonesia untuk mempertahankan tanah air Indonesia. Pembentukan PETA ini menarik minat para pemuda Indonesia khususnya yang telah mendapat pendidikan sekolah menengah dan para anggota Seinendan (organisasi semi militer yang bertujuan agar dapat menjaga dan mempertahankan tanah air). Sama seperti Heiho, para pemuda yang mengikuti organisasi ini terdiri atas pemuda berumur 18-25 tahun. Para pemuda yang mengikuti organisasi PETA ini mengikuti latihan di kompleks militer Bogor, Jawa Barat yang diberi nama Jawa Bo-ei Giyûgun Kanbu Resentai. PETA merupakan organisasi semi militer dan militer yang bertugas mempertahankan tanah air Indonesia dari serbuan musuh. Jumlah personel PETA ada 66 Batalyon di Jawa, 3 Batalyon di Bali, dan sekitar 20.000 orang di Sumatera Markas Bogor.
Keangotaan Peta terdiri dari 5 tingkatan yaitu :
1.      Daidanco (Komandan Batalyon) : orang-orang yang ada di dalam Daidanco di pilih dari tokoh-tokoh masyarakat seperti pegawai pemerintah, pemimpin agama, pamongpraja, politikus, dan penegak hukum.
2.      Cudanco (Komandan Kompi) : orang-orang di dalamnya berasal dari kalangan yang telah memiliki pekerjaan tetapi belum memiliki jabatan yang tinggi, misalnya juru tulis dan guru.
3.      Shodanco (Komandan Pleton) : orang-orang di dalam Shodanco di pilih dari kalangan pelajar sekolah lanjutan pertama atau sekolah lanjutan atas (sama seperti SMP dan SMA).
4.      Budanco (Komandan Regu) : orang-orang yang berada di dalam Budanco dipilih dari kalangan pemuda yang pernah bersekolah dasar (sama seperti SD)
5.      Giyuhei (Prajurit Sukarela) : orang-orang didalamnya adalah kalangan pemuda yang belum pernah merasakan pendidikan.
Para pemuda yang menjadi anggota organisasi PETA di bedakan menjadi 3, yaitu :
1.      Mereka yang menjadi anggota PETA dengan semangat yang tinggi
2.      Mereka yang menjadi anggota PETA yang di pengaruhi oleh orang lain.
3.      Mereka yang menjadi anggota PETA dengan perasaan acuh tak acuh.
Diantara mereka para anggota PETA beranggapan jika pembentukan organisasi ini memang untuk mempertahankan Indonesia. Mereka beranggapan bahwa Jepang akan memberikan kemerdekaan kepada Indonesia, juga membantu Indonesia dalam mengusir musuh lain. Karena itu para pemuda Indonesia dengan sukarela bergabung dengan organisasi PETA.
Lambat laun para anggota PETA menyadari ada yang sesuatu yang janggal dari pemerintahan Jepang di Indonesia. Tujuan utama PETA yang tadinya untuk mempertahankan tanah air Indonesia dan membela Indonesia dari blok sekutu menjadi berubah. Ada pendapat lain yang beranggapan bahwa dibentuknya PETA adalah strategi Jepang untuk menarik simpatik rakyat Indonesia. Pemerintahan Jepang memberikan janji-janji manis kepada rakyat Indonesia tetapi ternyata itu hanya bualan semata. Mereka mulai memperlihatkan tindakan buruknya secara terang-terangan dalam bentuk jajahan dan mengambil kekayaan Indonesia serta memaksa rakyat Indonesia, terutama para pemuda-pemuda untuk kerja paksa (Romusha) membangun sarana-prasarana untuk pemerintahan Jepang. Pemerintah Jepang justru malah membuat rakyat Indonesia semakin sengsara. Akibat dari semua itu, pakaian sulit didapatkan, kelaparan dimana-mana, dan rakyat Indonesia terjangkit penyakit. Walaupun begitu Jepang tidak mau memikirkan kesengsaraan rakyat Indonesia yang di timbulkan oleh Jepang. Rasa benci terhadap pemerintahan Jepang  pun muncul. Karena itulah sehingga timbulah pemberontan-pemberontakan yang dilakukan oleh para anggota PETA.
Dimulai pada tahun 1944 pemberontakan-pemberontakan terjadi. Pemberontakan terbesar terjadi pada tanggal 14 Februari 1945 di Blitar. Pemberontakan ini dipimpin oleh Supriyadi (putra bupati Blitar) dan dengan diikuti oleh kira-kira separuh dari seluruh anggota Daidan, karena tidak tahan melihat perilaku Jepang yang membuat rakyat Indonesia sengsara. Dalam kepemimpinannya Supriyadi di bantu oleh Dr. Ismail, Mudari, dan Suwondo.
Pada tanggal 29 Februari 1945 dinihari mulailah Supriyadi dengan teman-temannya bergerak. Mereka melepaskan tembakan mortat, senapan, mesin, dan granat dari daidan, lalu bergerak ke luar dengan senjata lengkap. Setelah pasukan Jepang mengetahui adanya pemberontakan yang dilakukan Supriyadi dan teman-temannya, maka dengan cepat Jepang mendatangkan pasukan-pasukan Jepang. Pasukan Jepang memiliki senjata yang lebih ampuh dari tentara PETA. Para pasukan PETA pun kalah dari pasukan Jepang. Pasukan Jepang menduduki kota Blitar. Daidan pun diduduki oleh Jepang. Setelah itu terjadi perlawanan lagi yang menyebabkan orang-orang Jepang di Blitar di bunuh. Karena perlawanan tersebut, Jepang pun terkejut. Apalagi Jepang juga sedang mengalami kekalahan perang dalam perang Asia Timur Raya. Setelah itu, Jepang memutuskan untuk mengepung kediamanan Supriyadi. Walaupun dikepung, Supriyadi dan teman-temannya tetap melakukan perlawanan terhadap Jepang. Terjadi tembak-tembakan antara tentara Jepang dengan tentara PETA. Jepang pun merasa terjepit sehingga memutuskan untuk mundur.
Karena kesal akan kekalahan dari tentara PETA, Jepang mencari siasat baru untuk menjatuhkan Supriyadi dan teman-temannya. Jepang menggunakan cara halus untuk menjatuhkan Supriyadi dan teman-temannya. Jepang menyerukan agar para pemuda-pemuda Blitar yang mengadakan perlawanan agar menyerah saja, jika para pemuda tersebut menyerah maka keselamatan mereka akan terjamin serta di penuhi semua permintaannya oleh pemerintah Jepang. Tipuan tersebut ternyata berhasil dilakukan oleh Jepang. Para pemuda pun terhasut oleh omongan dan janji Jepang. Akibatnya juga banyak tentara PETA yang menyerah. Dan para tentara PETA yang menyerah tidak luput dari hukuman. Para pemimpin pemberontakan PETA banyak yang di tangkap. Sebanyak 6 orang dijatuhi hukuman mati, dan 35 orang di hukum dari 2 tahun sampai seumur hidup. Adapun Supriyadi sebagai otak dan pemimpin dari pemberontakan PETA tidak tahu nasib setelah penangkapan ini. Namun sebagian orang yakin bahwa Supriyadi telah di tangkap dan diam-diam telah dibunuh oleh tentara Jepang.
Memang pemberontakan PETA di Blitar adalah pemberontakan yang paling besar. Tetapi ternyata ada beberapa pemberontakan yang terjadi setelah pemberontakan selain yang terjadi di Blitar dan pemberontakan tersebut disembunyikan oleh Jepang. Ada pemberontakan PETA di Cilacap yang dipimpin oleh Kusaeri. Tentara PETA berjumlah 215 orang lengkap dengan persenjataannya menyerang gudang senjata Jepang. Jepang tidak terlalu menghiraukan pemberontakan yang terjadi, Jepang berpendapat bahwa pemberontakan itu telah di ketahui oleh Daidanco PETA Kroya Soedirman. Oleh karena itu, Jepang menyuruh Soedirman dan opsirnya dari Jepang untuk memandamkan pemberotakan tersebut. Namun, Sudirman mengajukan beberapa syarat kepada Jepang yaitu :
1.      Kampung yang di gunakan untuk persembunyian para pemberontak PETA di cilacap tidak ditembaki
2.      Prajurit-prajurit PETA yang menyerah tidak boleh di siksa
Jepang pun menyetujui syarat yang di berikan oleh Soedirman. Dan pada akhirnya pemberontakan tersebut dapat di selesaikan dengan baik.
Akibat banyak terjadinya pemberontakan-pemberontakan yang dilakukan oleh tentara PETA yang telah terjadi di berbagai wilayah di Indonesia. Akhirnya setelah hari kemerdekaan Indonesia, yaitu pada tanggal 18 Agustus 1945. Pembubaran ini berdasarkan dengan perjanjian Jepang dengan blok sekutu. Tentara kekaisaran Jepang memerintah kepada semua daidan batalyon PETA untuk menyerah dan menyerahkan semua senjata mereka kepada Jepang. Sebagian besar mematuhi perintah Tentara Kekaisaran Jepang, sebagian kecil tidak, karena mereka beranggapan bahwa senjata itu milik Indonesia. Presiden Soekarno yang baru dilantik pun menyetujui agar PETA dibubarkan. Ia beranggapan lebih baik PETA di bubarkan daripada menjadi tentara nasional Indonesia. Karena Blok sekutu tau bahwa Indonesia baru saja merdeka, mereka menuduh Indonesia menjadi sekutu dari Jepang, maka blok Sekutu tidak mengizinkan lagi Jepang mebuat tentara-tentara di Indonesia. Dan pada akhirnya PETA pun benar-benar bubar. Sehari setelah kejadian tersebut yaitu pada tanggal 19 Agustus 1945, Panglima terakhir Tentara Kekaisaran Jepang yang ke-16 Letnan Jendral Naguno Yoichiro di Jawa, mengucapkan pidato perpisahan kepada para anggota kesatuan PETA.
Peranan tentara PETA dalam kemerdekaan Indonesia sangatlah penting. Kebanyakan mantan tentara PETA menjadi bagian penting atau inti dari Tentara Nasional Indonesia (TNI), mulai dari Badan Keamanan Rakyat (BKR), Tentara Keamanan Rakyat (TKR), Tentara Keselamatan Rakyat, Tentara Republik Indonesia (TRI) hingga menjadi TNI. Untuk mengenang perjuangan PETA, pada tanggal 18 Desember 1955, di resmikan monumen PETA oleh H.M Suharto, yang terletak di Bogor. Awalnya gedung museum tersebut adalah tempat Markas Tentara KNIL. Museum ini terletak di Jln Jend. Sudirman no.35 Bogor.

Referensi :
·         Supriatna, Nana, 2006. Sejarah. Jakarta: Grafindo Media Pratama
·         Purwanta dkk, 2007. Sejarah. Jakarta:Grasindo Widiasarana Indonesia




Tidak ada komentar:

Poskan Komentar