Selasa, 08 Januari 2013

UAS Wynnona Geary


Wynnonna Geary Probo
4423126888
D3 Usaha Jasa Pariwisata
UAS

Museum Wayang



Museum Wayang berada di Jl. Pintu Besar Utara 27, kota, Jakarta Barat. Museum Wayang ini berletak dekat dengan Museum Sejarah Jakarta (Museum Fatahillah). Dahulu museum ini dibangun tahun 1640 bernama De Oude Hollandsche Kerk (Dutch Old Church) . tahun 1732 mendapatkan renovasi gedung dan berubah juga namanya menjadi De Nieuwe Hollandsche Kerk (Dutch New Church) dan sempat terjadi gempa pada tahun 1808.

 Kemudian dibangun kembali  Museum Wayang ini tahun 1912 di atas reruntuhan bangunan lama yang terjadi akibat gempa tersebut. Dibuka sebagai Museum Batavia secara resmi tanggal 22 Desember 1939 oleh Jonkheer Meester Aldius Warmoldus Tjarda van Strakenborg yaitu gurbernur Jendral Belanda yang terakhir. Dan Museum Wayang juga diresmikan oleh gubernur Jakarta yang pada waktu itu bernama Ali Sadiki tanggal 13 Agustus 1975..

Ada 4000 koleksi wayang dan boneka yang berasal dari berbagai tempat di Indonesia dan luar negri, seperti India, Belanda, Malaysia, Thailand, Suriname, Cina, Vietnam, Kolobia, serta berbagai macam topeng, gamelan, dokumen, peta dan foto-foto tua. Lalu ada juga boneka Sigale-gale dari Sumatra Utara yang dimainkan dalam upacara kematian bagi seseorang yang meninggal dalam usia muda dan gundala-gundala yang berasal juga dari Sumtra Utara yang dimainkan untuk mendatangkan hujan.
UNESCO lembaga yang membawahi kebudayaan dari PBB pada 7 November 2003 menetapkan wayang sebagai pertunjukan bayangan boneka dari Indonesia. Sebuah warisan mahakarya dunia yang tak ternilai dalam seni bertutur. Tak ada bukti yang menunjukan wayang telah ada sebelum agama Hindu menyebar di Asia Selatan. Diperkirakan dibwa masuk oleh pedagan India. Namun kejeniusan local dan kebudayaan yang ada sebelumnya masuk Hindu menyatu dengan perkembangan seni pertunjukan yang masuk memeberi warna tersendiri pada seni pertunjukan Indonesia. Sampai saaat ini catatan awal yang bisa di pertunjukan tentang wayang berasal dari Prasarti Balitung abad ke 4 yang berbunyi “si Galigimawayan”.

Sebenarnya pertunjukan boneka tak hanya ada di Indonesia karena banyak Negara lain mempunyai pertunjukan boneka. Tapi pertujukan wayang di Indonesia yang memiliki gaya tutur dan keunikannya sendiri. Untuk ituah UNESCO memasukan ke dalam Daftar Representatif Budaya Takbenda Warisan Manusia pada tahun 2003.

Ada wayang kulit, wayang gung dan wayang suket. Perbedaan dari wayang-wayang ini adalah sebagai berikut:

-          Wayang kulit adalah wayang yang tebuat dari kulit kambing, sapi, kerbau. Proses pembuatannya dimulai daari menjemur kulitnya, lalu di potong dan dirancang sesuai yang di inginkan. Wayang kulit terkenal di pulau Jawa. Pementasaan dalam wayang kulit membutuhkan dalang yang menggerakan ayang tersebut. Selain memainkan wayang, dalang juga mengisi suara dalam wayang tersebut.

-          Wayang suket adalah wayang bentuk tiruan dari berbagai fitur wayang kulit yang terbuat dari rumput. Wayang ini biasanya dibuat hanya untuk permainan atau menceritakan pewayangan pada anak-anak desa di Jawa. Untuk pembuatannya membutuhkan beberapa helai daun rerumputan dijalin lalu dirangkai (dengan lipatan) membentuk seperti wayang kulit. Karena berbahan rumput jadi wayang ini kurang tahan lama.

-          Nah, yang terakhir ini adalah wayang gung. Seni ini adalah seni pertunjukan wayang orang. Jadi tidak menggunakan boneka seperti wayang-wayang pada umumnya. Orang yang memainkan pentas wayang gung yang menjadi tokoh pewayangan sambil mengenakan mahkota atau katupung yang menggambarkan tokoh dalam cerita wayang tersebut. Wayang ini berasal dari Banjar, Kalimantan Selatan.
 Berikut beberapa macam wayang dari beberapa daerah di Indonesia:
 Wayang adalah seni pertunjukan asliIndonesia yang berkembang pesat di pulau Jawa dan Bali. Selain itu beberapa daerah seperti Sumatera dan Semenanjung Malaya juga memiliki beberapa budaya wayang yang terpengaruh oleh kebudayaan Jawa dan Hindu.

 Wayang kulit, seni pertunjukan yang sudah cukup tua umurnya adalah salah satu bagian dari seni pertunjukan Bali yang hingga kini masih tetap digemari oleh masyarakat setempat. Di desa-dsa maupun kota masyarakat masih sering mempertunjukn wayang kulit dalam kaitan upacara agama Hindu, upacara adat Bali, ataupun hanya hiburan saja.

 Wayang kulit Bali terbagi menjadi dua, yaitu:
a)      Wayang Lemah
b)      Wayang Peteng
Ketika Hindu masuk ke Indonesia dan menyesuaikan kebudayaan yang sudah ada, seni pertunjukan ini menjadi media efektif menyebarkan agama Hindu. Pertunjukan wayang menggunakan cerita Ramayana dan Mahabrata.
Di Bali, pertunjukan Wayang Kulit melibatkan anatara 3 prang sampai 15 orang yang meliputi dalang, pengiring dan jika diperlukan sepasang pembantu dalang. Komando tertinggi dalam pertunjukan wayang kulit adalah dalang. Untuk mementaskan wayang para dalang Bali memerlukan sekitar 125-130 lembar wayang yang disimpan dalam kotak wayang (kropak).

Para seniman Bali pun juga berusaha menambahkan inovasi dan kreatifitas mereka melali kaloborasi dengan senimana asing atau dari luar daerah Bali. Dalang I Made Sidja atau Ida Bagus Ngurah menginovasikan dengan gamelan suling atau Pegambuhan. Dan bisa juga ditambahkan inovasi yang lainnya seperti contoh dibwah ini:
 Penggunaan tata lampu yang modern
 Pemakaian overhead-prjector untuk membuat citra realistis di bagian latar belakang
 Pemakain wayang golek besar dan lai-lainnya.
Kesemuanya merupakan wujud nyata dari usaha para seniman dalang muda untuk terus menyegarkan kehidupan seni Pewayangan di Bali. Gamelan Selonding dan Selukat menjadi pengiring wayang di Bali. 

Lalu sama dengan agama Islam, ketika mempertunjukan “Tuhan” dalam wujud manusia itu dilarang. Jadi munculah boneka wayang yang terbuat dari kulit sapi dimana dipertunjukan hanyalah bayangannya saja. Wayang inilah yang sekarang kita kenal sebagai wayangkulit. Menyebarkan agama isla berkembang juga di wayang Sadat yang memperkenalkan nilai-nilai Islam.
Ketika misionaris Katolik, pastor Timotheus L. Wignyosubroto, SJ pada tahun 1960 dalam misina menyebar agama Katolik ia mengembakan wayang Wahyu yang bersumber dari kitab Alkitab.
Lalu ada berbagai macam jenis-jenis wayang yang dapat di jumpai di Jawa. Mulai dari berbagai jenis bahannya pula. Beberapa jenis wayang dapat diesebutkan sebagai berikut:

1.      Wayang Purwa

Pada umumnya cerita (lakon) yang dibawakan dari wayang purwa diambil dari Ramayana dan Mahabrata. Bentuk wayang ini berbeda dengan bentuk tubuh manusia pada umumnya dan diukir dengan system tertentu sehingga perbandingan (proposisi) dengan bagian-bagian bentuk-bentuk yang lain seimbang.

Pada dasarnya bentuk wayang Purwa didasarkan pada relief bentuk candi, lambat laun bentuk itu mengalami perubahan sedemikian rupa sehingga sesuai dengan pribadi masyarakat Indonesia Jawa.


2.      Wayang Madya

Wayang Madya merupakan ciptaan dari Mangkunegara IV Surakarta. Cerita yang dipertunjukan melanjutkan cerita wayang purwa, yaitu dari udayono sampai Jayalengkara. Pada umumnya, wayang madya tokoh-tokoh raja yang tidak memakai praba (= sinar atau tembus), suatu perhiasaan yang dipakai di punggung setiap raja, sebagai lambing kedudukannya. Cara memakai kainya ialah dengan apa yang dinamakan “banyakan” (lasana tabiat angsa).


3.      Wayang Klitik

Boneka wayang ini berbentuk pipih, walaupun tidak setipis kulit dan dibuat dari kayu. Lengan atau tangannya dibuat dari kulit sapi atau kerbau. Jenis wayang ini untuk menceritakan tanah jawa, khususnya kerajaan Majapahit dan Pajajaran.


4.      Wayang Beber

Wayang beber merupakan gambar wayang, yang dilukiskan pada kain putih wayang beber biasanya terdiri dari 4 gulung (buah) yang berisikan 16 adegan. Urain R.M. Sajid mengenai wayang beber adalah: wayang beber itu bukan wayang yang dipergunakan untuk “imbaran” (ngamen) yang kemudian diepertunjukan di jalan-jalan. Kata “beber” dalam hal in berarti direntangkan, yang dalam bahasa Jawa digelar atau dijembreng. Setiap kali diceritakan gambar wayang itu, direntangkan agar supaya diketahui oleh penonton bagaimana bentuk lukisan dari cerita tersebut.


5.      Wayang Gedog

Wayang gedog diciptakan oleh Sunan Giri, untuk digunakan dalam cerita panji, yang merupakan cerita raja-raja Jenggala, yaitu mulai dari Prabu Sri Ghataya (Subrata) sampai Panji Kudalaleyan.

Betuk wayang gedog itu mirip dengan wayang purwa, tetapi tidak menggunakan gelung “supit urang” pada tokoh-tokoh rajanya. Pada wayang jenis ini tidak diketemukan wayang-wayang. raksasa dan wayang-wayang kera. Semua memakai kain kepala yang disebut “hudeg  giling”.


6.      Wayang Golek

Boneka ini kebanyakan berpakaian (berjubah) baju panjang, tanpa digerakan secara bebasa dan digerakan menggunakan kayu dan terbentuk dari kayu yang berbentuk bulat  seperti lazim nya boneka.
Cerita wayang jenis ini bersumber dari serat Menak, yang berisikan cerita Arab. Tetapi ada beberapa daerah yang menggunakan cerita yang biasa digunakan dengan jenis wayang Purwa, yaitu Ramayana dan Mahabrata.

Boneka ini kebanyakan berpakain berjubah (baju panjang) tanpa berkain panajng, memakai serban (seperti orang Arab) memakai sepatu, pedang, dan perlengkapan yang lainnya.

Selain yang telah disebutkan diatas masih banyak jenis wayang yang lainnya, yaitu jenis-jenis yang diubah pada abad dua pilihan yaitu wayang kancil, wayang suluh, wayang pancasila, dan masih banyak lagi. Bentuk-bentuk wayang tesebut ada yang mendekati dengan proposi manusia.

Wayang golek saat ini lebih dominan menjadi seni petunjukan rakyat yang secara garis besar tentang kebutuuhan-kebutuhan lingkungan masyarakat. Baik secara spriritual maupun material. Wayang golek ini menjadi kegiatan yang sering dilakukan oleh masyarakat dalam perayaan hajatan (pesta kenduri) khitanan, pernikahan, dan lain-lainnya.




Berikut juga Kandungan dalam Wayang:

a)         Wayang bersifat “Momot Kamot”

Wayang merupakan media pertunjukan yang dapat membuat segala aspek kehidupan manusia (momot kamot). Pemikiran manusia terkait dengan ideology, politik, ekonomi, social, budaya, hokum, maupun pertahanan keamanaan dapat termuatdi wayang. Di dalam wayang melalui kecanggihan dalang dapat mebahas masalah-masalah actual dalam masyarakat. Secara konvensional disajikan system ideologi  yang mengidam-idamkan sebuah Negara yang gemah, ripah, loh, jinawi, tata, tentrem, karta,raharja; struktur sosia dalam system tata Negara kerajaan (raja, pendeta, panglima, prajurit dan sebagainya). Selain itu permasalahan kehidupan sehari-hari manusia secara actual dikupas dalam adegan agak santai (limbukan dan gara-gara).

b)        Wayang mengandung Tatanan, Tuntunan, dan Totonan

Didalam wayang dikandung tatanan, yaitu norma yangmengandung etika (filsafat moral). Norma tersebut disepakati dan dijadikan pedoman bagi para seniman dalang. Di dalam wayang pun dikandung ajaran-ajaran yang dapat digunakan sebagai pedoman hidup manusia. Misalnya ajaran kepemimpinan, hendaknya seorang pemimpin meneladani watak ayang: surya, Chandra, kartika, akasa, kisma, tirta, dahana, dan samirana (asthabrata). Namun wayang juga dipandang dapat sebagai seni pertunjukan yang menarik, memukai, dan menghibur artinya; dapat membahagiakan hati penonton.

c)         Wayang Merupakan Teater Total

Pertunjukan wayang dapat diartikan seni teatre total artinya; menyajikan aspek-aspek seni secara total(seni darama, music, seni gerak tari, seni sastra, dan seni rupa). Dialog antar tokoh (anta wecana), ekspresi narasi (janturan, pocapan, carita), suluk, kombangan, dhogdhogan, kepyakan, adalah unsur-unsur penting dalam pendramaan. Music sebagai pendukung proses pendramaan, tinggi rendah nada, irama dan rasa sebagai parameter para seniman music dalam mengekspresikan unsure-unsur diatas. Gerak tari pun memerlukan wiraga, wirasa, dan wirama,yang dikembangankan oleh music. Sastra dikembangkan dalam pertunjukan dalam mengolah bahasa sebagai susunan kata dan kalimat yang mengandung aspek seni. Rupa wayang mangandung seniman dalang dan mengekpesikan suara tokoh, tinggi rendah nada, dan juga dalam gerak tarinya.


Ini adalah dalang-dalang wayang kulit yang melegenda yaitu antara lain sebagai berikut: Ki Tristuti Rachmadi (Solo), Alm.Ki Narto Sabdo (Semarang, gaya Solo), Alm. Ki Surono (Banjarnegara, gaya Banyumas), Ki Soeparman (gaya Yogya), Ki Timbul Hadi Prayitno (gaya Yogya),  Ki Hadi Sugito (Kulonprog, Jogyakarta), Ki Anom Suroto (gaya Solo), Ki Manteb Sudarsono (gaya Solo), Ki Enthus Susmono, Ki Aus Wiranto, lalu Pesinden yang legendaries adalah alm. Nyi Tjondrolukito.





   
`                                                                                        





















       Wynnona Geary P. UJP’12

Resensi
Drs Sunarto . 1989. Wayang kulit purwa gaya Yogyakarta. Jakarta: Balai Pustaka.
Darmoko S.S., M.Hum. 2010. pedoman pewayangan berperspektif perlindungan saksi dan korban. Jakarta: lembaga perlindungan saksi dan korban.
Pranoedjoe Poespaningrat. 2005. Nonton Wayang Dari Berbagai Pakeliran. Yogyakarta: PT. BP. Kedaulatan Rakyat.






Tidak ada komentar:

Posting Komentar