Rabu, 02 Januari 2013

UAS SEJARAH museum bahari "pahlawan nasional TNI AL John Lie" (ADINDA YULIANA)




UAS SEJARAH  INDONESIA

                                      
                                             
ADINDA YULIANA PUTRI
4423126856
FAKULTAS ILMU SOSIAL
JURUSAN SEJARAH
PRGRAM STUDI USAHA JASA PARIWISATA
UNIVERSITAS NEGERI JAKARTA




BIOGRAFI JOHN LIE


pahlawanan seorang tokoh keturunan Tionghoa, yang pernah berdinas di angkatan laut pada jaman penjajahan dulu. Ia bernama John Lie yang lahir 9 Maret di tahun 1911 di Menado. Dia tertarik menjadi angkatan laut, karena ia mengawali pekerjaannya sebagai buruh pelabuhan dan kemudian dia bergabung di Angkatan Laut Republik Indonesia hingga dia memperoleh pangkat terakhir Laksaman Muda. Sebagai angkatan laut dia banyak bertugas dalam mengamankan kapal pengangkut komoditas ekspor Indonesia ke luar negeri. Karena berhasil menerobos hadangan pasukan Belanda, secara rutin dia mengawal hasil bumi ke Singapura.


John Lie atau Laksamana Muda TNI Jahja Daniel Dharma, tidak kita kenal melalui pelajaran sejarah di sekolah. Kita baru mengenalnya kembali ketika pada 9 November 2009, Presiden Soesilo Bambang Yudhoyono menganugerahkan gelar Pahlawan Nasional kepadanya.
            John Lie adalah orang yang bertugas di Angkatan Laut Sekutu (1942-1944) karena itulah ia mendapat pelatihan-pelatihan kelautan dipangkalan laut di Inggris di teluk persia. Yang membuatnya makin matang dalam bidang kelautan, yaitu pengetahuan senjata, bongkar pasang dan pemeliharaan senjata, taktik perang dilaut, prosedur administrasi kapal, logistik, sistem komunikasi dan morse, pengenalan jenis-jenis kapal sekutu, pengetahuan ranjau.
            Setelah perang dunia II berakhir, proklamasi kemerdekaan Indonesia menarik pemuda-pemuda termasuk John Lie untuk kembali ke Indonesia pada Februari 1946 yang diusahakannya bergabung dengan Kesatuan Rakyat Indonesia Sulawesi (KRIS).
            Kemudian John Lie diangkat di ALRI dengan Kelasi III. Dengan tugas menunjukkan kecermelangan dan kematangan dibidang kelautan. Termasuk mengamankan pelabuhan Cilacap dari ranjau-ranjau yang ditanam dan melatih kader pemuda Indonesia dalam bidang kelautan.
            Kita lebih mengenal perjuangannya melalui “the outlaw” (pembangkang), sebuah speed boat RI yang berhasil yang berhasil menembus blockade Belanda. Pada kalangan koresponden barat ia di kenal sebagai “the guns and bibles smuggler”. Ia juga turut terlibat dalam operasi militer dalam mempertahankan kemerdekaan Indonesia dari pembrontakan-pembrontakan, seperti RMS (republic Maluku Selatan) dan lain-lain. Dan pada tanggal 30 Agustus 1966 John Lie mengganti namanya dengan Jahja Daniel dan wafat pada tahun 1988.
            Semasa pension ia aktif dalam pelayanan gereja dan kaum gelandagan. Bagi John Lie tugas yang dilakukannya bukan hanya menjalankan “the outlaw” sesuai misi. Suatu waktu ada yang membawa titipan dari wakil presiden RI Moh. Hatta untuk Mayor John Lie sebesar 5.600 ringgit dalam bentuk cek dengan pesan “ kiriman senjata dan peluru semua sudah diiterima dengan selamat”. Semua the outlaw bangga karena mereka mendapat perhatian dan perhargaan dari wakil presiden.
Pada 1949 merupakan pelayaran terakhir yang dilakukan John Lie bersama anak buah kapalnya. Mereka berlayar dari Aceh ke Phuket. Di Bangkok ia mendapat tugas baru mencari dan mengumpulkan lebih banyak senjata dan keperluan militer lainnya. The Outlaw kemudia di pinpin oleh Letnan Laut O.P Kusno, seorang pelaut yang juga berpengalaman.
John Lie bukan orang Indonesia, mungkin Melayu, mungkin Tionghoa, atau mungkin Tionghoa Melayu, juga bukan sejarah Partai Komunis. Dan John Lie dan Fransisca C. Fanggidaej yaitu seorang perempuan perjuangan yang pernah bergabung dengan sekelompok intelektual muda Maluku di Surabaya, duduk sebagai anggota parlementer sesudah tahun 1956.

PENYELUDUPAN DENGAN AL-KITAB
John Lie dikenal sebagai pejuang yang rohani. Ia mendapat julukan "The Smuggler With The Bible" atau penyelundup dengan Alkitabnya. Kapalnya "The OutLaw" hampir dipenuhi dengan ayat-ayat dari Alkitab dan ke mana-mana ia pergi Alkitab tidak pernah lepas dari tangannya. Ini bermakna betapa John Lie dalam setiap tindak-tanduk dan perbuatan selalu bersandar kepada Tuhan. Ia takut berpisah atau terlampau jauh dari Tuhannya sehingga ia selalu ingin berdekatan dengan Alkitab sesuai imannya. 
Pernah dikisahkan dalam sebuah kesempatan, John Lie pada saat membawa 18 drum minyak kelapa sawit, ia ditangkap perwira Inggris. Namun di pengadilan Singapura, ia dibebaskan karena tidak terbukti bersalah. Dalam kesempatan lain, ia mengalami peristiwa menegangkan saat membawa senjata semi otomatis dari Johor ke Sumatera, dihadang pesawat terbang patroli Belanda. Dua penembak, seorang berkulit putih dan seorang berkulit gelap mengarahkan senjata ke kapal mereka. Entah mengapa, komandan Belanda tidak mengeluarkan perintah tembak dan pesawat itu meninggalkan kapal John Lie. Barangkali ini adalah sebuah mujizat bagi seorang pejuang yang sangat rohani. John Lie juga terlibat dalam penumpasan RMS, DI/TII dan PRRI/PermestaIa lahir dari pasangan suami isteri Lie Kae Tae dan Oei Tjeng Nie Nio. Awalnya beliau bekerja sebagai mualim kapal pelayaran niaga milik Belanda KPM lalu bergabung dengan Kesatuan Rakyat Indonesia Sulawesi (KRIS) sebelum akhirnya diterima di Angkatan Laut RI. Semula ia bertugas di Cilacap dengan pangkat Kapten. Di pelabuhan ini selama beberapa bulan ia berhasil membersihkan ranjau yang ditanam Jepang untuk menghadapi pasukan Sekutu. Atas jasanya, pangkatnya dinaikkan menjadi Mayor.


KARIER ANGKATAN LAUT
Pada masa revolusi fisik 1945-1949, mereka juga ikut berjuang dalam mempertahankan kemerdekaan Indonesia. Salah satunya adalah perjuangan Mayor John Lie yang akan dikisahkan berikut ini.
Adanya dicapai kesepakatan mutlak, itu tidak akan tercapai. Namun adanya pahlawan nasional dari etnis Tionghoa justru sangat penting bagi masyarakat Indonesia keseluruhan yang bisa melihat bahwa etnis Tionghoa itu sama dengan etnis lain di Tanah Air sama-sama berjuang untuk kemerdekaan bangsa.
John Lie adalah sosok legendaris dalam organisasi penyelundup senjata yang terentang dari Filipina sampai India. Jaringan ini punya kantor rahasia di Manila, Singapura, Penang, Bangkok, Rangon dan New Delhi
Untuk mempertahankan kedaulatan Republik Indonesia yang masih sangat muda, kepemilikan senjata api adalah hal mutlak. Bahkan dalam perjanjian gencatan senjata Agresi Militer Belanda I,  Perdana Menteri Hatta menegaskan bahwa gencatan senjata tidak termasuk impor dan ekspor senjata oleh Republik.
Belanda tetap memberlakukan blokade terhadap Indonesia dalam rangka menghalangi kemerdekaan bekas jajahannya. Menyiasatinya, senjata diperjualbelikan dengan menembus blokade Belanda itu. Dari sanalah karier penyelundup John Lie mencapai puncaknya. Meskipun Republik muda itu tak punya dana, Lie berhasil mendapatkan senjata dengan cara barter dengan hasil bumi.
Menurut buku “The Indonesian Revolution and The Singaporean Connection”, harga senjata bervariasi. Tahun 1948, penyelundup menjual dua karabin dan ribuan magasin dengan bayaran satu ton teh. Satu senapan mesin dan ribuan magasin dihargai 2,5 ton teh, enam ton teh bisa digunakan untuk membeli enam senjata anti pesawat udara beserta ribuan magasinnya.
John Lie adalah legenda. Menurut laporan majalah Life yang terbit pada 26 September 1949,  kapal Lie yang panjangnya 110 kaki (34 meter) selalu lolos dari patroli Belanda. Mengingat kapal itu tak dilengkapi senjata, meloloskan diri bukan perkara mudah. Kapal kerap dikejar sepanjang Selat Malaka, tak jarang dibombardir dengan peluru dan bom. Empat kapal lain yang sejenis telah dihancurkan Belanda.
Kapten Lie yang saat itu berusia 39 tahun, punya siasat. Kapal hitam dengan nomor registrasi PPB 58 LB itu disembunyikannya di teluk-teluk kecil sepanjang Sumatera dengan ditutupi dedaunan. Lie dan krunya lalu menunggu dalam diam hingga kapal dan pesawat Belanda menghentikan pencariannya.
Lie bergerak dengan bantuan belasan krunya, semuanya anak muda dengan usia rata-rata 21 tahun. Mereka bekerja tanpa dibayar demi patriotisme kepada Republik Indonesia. Mereka bolak -balik membeli senjata, dan menukarnya dengan hasil bumi, seperti teh, karet dan kopi.


John Lie adalah penganut Kristen yang taat. Dalam misinya dia selalu membawa dua Injil. Satu berbahasa Inggris dan satu Belanda. Meski demikian dia tak pilih-pilih; sering juga dia memasok senjata bagi para pejuang Muslim di Aceh.
Kepada wartawan majalah Life, Roy Rowan, Lie menyatakan sumpahnya "menjalankan kapal ini untuk Tuhan, negara dan kemanusiaan."  Cita-citanya hanya satu: mengubah Indonesia yang saat itu adalah hutan belantara, menjadi taman surga. Menurutnya, tugas mengubah Indonesia menjadi surga adalah takdir Tuhan untuknya.
Pada Desember 1966 Lie mengakhiri kariernya di TNI Angkatan Laut dengan pangkat terakhir Laksamana Muda. Sebelum itu, pada Agustus 1966 dia mengganti nama menjadi Jahja Daniel Dharma. Lie meninggal karena sakit pada 27 Agustus 1988.
Tahun 2009, 21 tahun setelah kematiannya, John Lie dianugerahi gelar Pahlawan Nasional oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono.

Sebagai penyelundup

Ia lalu ditugaskan mengamankan pelayaran kapal yang mengangkut komoditas ekspor Indonesia untuk diperdagangkan di luar negeri dalam rangka mengisi kas negara yang saat itu masih tipis. Pada masa awal (tahun 1947), ia pernah mengawal kapal yang membawa karet 800 ton untuk diserahkan kepada Kepala Perwakilan RI di Singapura, Utoyo Ramelan. Sejak itu, ia secara rutin melakukan operasi menembus blokade Belanda. Karet atau hasil bumi lain dibawa ke Singapura untuk dibarter dengan senjata. Senjata yang mereka peroleh lalu diserahkan kepada pejabat Republik yang ada di Sumatera seperti Bupati Riau sebagai sarana perjuangan melawan Belanda. Perjuangan mereka tidak ringan karena selain menghindari patroli Belanda, juga harus menghadang gelombang samudera yang relatif besar untuk ukuran kapal yang mereka gunakan.
Untuk keperluan operasi ini, John Lie memiliki kapal kecil cepat, dinamakan the Outlaw. Seperti dituturkan dalam buku yang disunting Kustiniyati Mochtar (1992), paling sedikit sebanyak 15 kali ia melakukan operasi "penyelundupan". Pernah saat membawa 18 drum minyak kelapa sawit, ia ditangkap perwira Inggris. Di pengadilan di Singapura ia dibebaskan karena tidak terbukti melanggar hukum. Ia juga mengalami peristiwa menegangkan saat membawa senjata semiotomatis dari Johor ke Sumatera, dihadang pesawat terbang patroli Belanda. John Lie mengatakan, kapalnya sedang kandas. Dua penembak, seorang berkulit putih dan seorang lagi berkulit gelap tampaknya berasal dari Maluku, mengarahkan senjata ke kapal mereka. Entah mengapa, komandan tidak mengeluarkan perintah tembak. Pesawat itu lalu meninggalkan the Outlaw tanpa insiden, mungkin persediaan bahan bakar menipis sehingga mereka buru-buru pergi.
Setelah menyerahkan senjata kepada Bupati Usman Effendi dan komandan batalyon Abusamah, mereka lalu mendapat surat resmi dari syahbandar bahwa kapal the Outlaw adalah milik Republik Indonesia dan diberi nama resmi PPB 58 LB. Seminggu kemudian John Lie kembali ke Port Swettenham di Malaya untuk mendirikan pangkalan AL yang menyuplai bahan bakar, bensin, makanan, senjata, dan keperluan lain bagi perjuangan mempertahankan kemerdekaan Indonesia.

AKHIR KARIER MILITER
Pada awal 1950 ketika ada di Bangkok, ia dipanggil pulang ke Surabaya oleh KSAL Subiyakto dan ditugaskan menjadi komandan kapal perang Rajawali. Pada masa berikut ia aktif dalam penumpasan RMS (Republik Maluku Selatan) di Maluku lalu PRRI/Permesta. Ia mengakhiri pengabdiannya di TNI Angkatan Laut pada Desember 1966 dengan pangkat terakhir Laksamana Muda.
John Lie atau Laksamana Muda TNI Jahja Daniel Dharma, tidak kita kenal melalui pelajaran sejarah di sekolah. Kita baru mengenalnya kembali ketika pada 9 November 2009, Presiden Soesilo Bambang Yudhoyono menganugerahkan gelar Pahlawan Nasional kepadanya.
Meski Indonesia telah merdeka tahun 1945, pengangkatan pahlawan nasional baru dimulai sejak tahun 1959. Sampai sekarang tercatat lebih dari 100 pahlawan yang berasal dari berbagai daerah di seluruh Indonesia.Dalam waktu lebih 30 tahun, etnis Tionghoa tidak disebut dalam pelajaran sejarah Indonesia. Aneka peringatan atau pertunjukan kultural yang berbau Tionghoa tidak pernah ditampilkan di depan umum. 
Baru pada era reformasi keadaannya berangsur berubah. Perayaan Imlek, misalnya, diakui sebagai hari libur fakultatif (masa Presiden Abdurrahman Wahid) dan libur resmi (era kepemimpinan Mega). Barongsai dipertunjukkan di mana-mana. Sejarah kelenteng diulas di televisi.Tampaknya, perjalanan warga Tionghoa masih panjang untuk mendapatkan kedudukan yang sederajat dengan etnis lain di Tanah Air. Diskriminasi di bidang hukum masih berlaku terhadap etnis Tionghoa. 
Tidak kalah, diskriminasi di bidang sejarah. Sumbangan amat besar etnis Tionghoa dalam ilmu pengetahuan dan teknologi selama berabad-abad di Nusantara tidak pernah diajarkan kepada siswa. Perlu dicatat, etnis Tionghoa berjuang melawan Belanda. Di Kalimantan Barat, seperti diteliti sejarawan UGM Harlem Siahaan, kongsi Tionghoa pernah mengangkat senjata terhadap Belanda.


HAMPIR REDUP DIMAKAN LUPA
Salah seorang tokoh etnis Tionghoa yang berjasa kepada Republik ini adalah John Lie atau Laksamana Muda TNI Jahja Daniel Dharma, tidak kita kenal melalui pelajaran sejarah di sekolah. Kita baru mengenalnya kembali ketika pada 9 November 2009, Presiden Soesilo Bambang Yudhoyono menganugerahkan gelar Pahlawan Nasional kepadanya. 
Laksamana Muda TNI (Purn) John Lie atau yang lebih dikenal sebagai Jahja Daniel Dharma (lahir di Manado, Sulawesi Utara, 9 Maret 1911 – meninggal di Jakarta, 27 Agustus 1988 pada umur 77 tahun) adalah salah seorang perwira tinggi di Tentara Nasional Indonesia Angkatan Laut dari etnis Tionghoa dan Pahlawan Nasional Indonesia.
Ia lahir dari pasangan suami isteri Lie Kae Tae dan Oei Tjeng Nie Nio. Awalnya beliau bekerja sebagai mualim kapal pelayaran niaga milik Belanda KPM lalu bergabung dengan Kesatuan Rakyat Indonesia Sulawesi (KRIS) sebelum akhirnya diterima di Angkatan Laut RI. Semula ia bertugas di Cilacap dengan pangkat Kapten. Di pelabuhan ini selama beberapa bulan ia berhasil membersihkan ranjau yang ditanam Jepang untuk menghadapi pasukan Sekutu. Atas jasanya, pangkatnya dinaikkan menjadi Mayor.
Sosok nama John Lie relatif kurang dikenal juga di kalangan warga Tionghoa khususnya generasi mudanya. Buku-buku sejarah resmi terbitan pemerintah yang dipakai di sekolah, tidak menyebut nama dan peran Lie. Penulis buku - Solichin Salam membuat buku buku berjudul "John Lie Penembus Blokade Kapal-Kapal Kerajaan Belanda" yang terbit pada tahun 1988. Kisah perjuangan Lie berjudul "Dari Pelayaran Niaga ke Operasi Menembus Blokade Musuh Sebagaimana Pernah Diceritakannya kepada Wartawan" dimuat dalam buku "Memoar Pejuang Republik Seputar 'Zaman Singapura' 1945 - 1950" yang ditulis Kustiniyati Mochtar, Gramedia Pustaka Utama (2002).
Karena sedikitnya pustaka mengenai Lie, tidak mengherankan namanya semakin redup dimakan lupa. Oleh karena itu usaha M. Nursam menulis buku "Memenuhi Panggilan Ibu Pertiwi: Biografi Laksamana Muda John Lie" (2008) yang diterbitkan Penerbit Ombak, Yogyakarta dan Yayasan Nabil, Jakarta, patut diberi penghargaan.
Buku ini dibangun dari berbagai sumber antara lain wawancara dengan keluarga, kerabat dan teman-teman Lie antara lain Laksamana Sudomo, bawahannya semasa di TNI AL. Sealin itu berasal dari wawancara John Lie dengan wartawan dan berita tentangnya yang dimuat di media masa seperti Majalah Life (26 Oktober 1949), Majalah Star Weekly (1956), Majalah Masa dan Dunia (1955), dan Harian Suara Pembaruan (1988).
Artikel berjudul "Guns and Bibles are Smuggled to Indonesia" ditulis oleh wartawan Life bernama Roy Rowan. Oleh M. Nursam artikel ini dimuat seutuhnya. Artikel tersebut ditulis berdasarkan wawancara dengan Lie. Pada 1949 Lie masih menjalankan tugasnya sebagai penyelundup. Dari Sumatera sebagai nahkoda kapal PBB 58 LB ia menembus blokade Belanda menuju Singapura, Malaysia dan Thailand membawa hasil bumi Indonesia untuk ditukar dengan senjata yang diperlukan untuk perjuangan melawan Belanda. Lie dicari-cari belanda untuk ditangkap meski lolos. Kapal yang dinahkodainya sering juga disebut The Outlaw.
John Lie, pahlawan Nasional yang berasal dari TNI Angkatan Laut. Presiden RI memberi penganugerahan gelar itu kepada Laksamana Muda TNI (Purn) Jahja Daniel Dharma, yang lebih dikenal sebagai John Lie. Penganugerahan dilakukan di Istana Negara dalam rangka hari pahlawan
Selama perang kemerdekaan, John Lie, kelahiran Manado, 9 Maret 1911, dikenal sebagai pelaut yang berhasil menembus blokade tentara Belanda di seputar Selat Malaka. Tugasnya menyelundupkan hasil bumi ke Malaysia untuk ditukar dengan senjata untuk keperluan perjuangan tentara Indonesia. Sebagai tentara TNI Angkatan Laut, ia adalah panglima kapal perang dalam tugas menumpas pemberontakan PRRI dan RMS (Intisari, Juli 2009).
Pengusulan gelar pahlawan dilakukan Yayasan Nabil, atas pemikiran salah satu anggota dewan pakarnya, Dr. Asvi Warman Adam, yang dirintis sejak tahun 2003. Tahapan dimulai dengan penulisan buku biografi John Lie Memenuhi Panggilan Ibu Pertiwi oleh M. Nursam, seminar tentang kepalawanan John di Jakarta dan Manado pada awal tahun 2009, hingga pengusulan kepada Pemerintah RI melalui Badan Pembina Pahlawan Daerah Sulawesi Utara.
Menariknya, John Lie (meninggal 27 Agustus 1998) juga tercatat sebagai salah satu pahlawan keturunan Tionghoa. Dilahirkan sebagai John Lie Tjeng Tjoan, merupakan anak kedua dari pasangan Lie Kae Tae dan Maryam Oei Tjeng Nie Nio. John generasi kelima dari leluhur yang datang dari Fuzhou dan Xiamen yang menetap di Minahasa sejak tahun 1790.

           
DOKUMENTASI DI MUSEUM BAHARI












-  buku ” Memenuhi Panggilan Ibu Pertiwi: Biografi Laksamana Muda John Lie”

buku “Peranakan Idealis dari Lie Eng Hok Sampai Teguh Karya”

-   buku ‘Memoar Perempuan Revolusioner Fransisca F. Fanggidaej

 

-         


Tidak ada komentar:

Poskan Komentar